Minggu, 30 April 2017

Imam Mahdi Lahir di Madinah?

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Imam Mahdi Lahir di Madinah?


Sejak masa permulaan, berdasarkan petuah Nabi Suci MuḥammadSAW, umat Islam telah menanti-nantikan kedatangan Imam Mahdi secara turun-temurun. Mereka percaya bahwa Imam Mahdi adalah tokoh penyelamat yang akan muncul pada akhir zaman untuk membangkitkan serta memenangkan Islam setelah sebelumnya dilanda kemunduran. Di tengah-tengah hiruk-pikuk dan gejolak dunia seperti sekarang ini, kedambaan kaum muslimin akan hadirnya sosok Imam Mahdi kian hebat dan menjadi-jadi. Hal tersebut terbukti dengan ditulis, dicetak, dan diperjualbelikannya berbagai literatur yang memuat prediksi-prediksi mengenai tahun kedatangan Imam Mahdi dalam waktu dekat. Apabila kita berkunjung ke berbagai toko buku, kita akan dengan mudah menjumpai buku-buku, poster-poster, ataupun kaset-kaset yang berpembawaan semisal itu.

Tiada keraguan bahwa hadis-hadis yang menjadi pijakan bagi akidah kemunculan Imam Mahdi masuk dalam kategori mutawātir, yakni diriwayatkan oleh banyak orang dari satu generasi ke generasi secara berkesinambungan sehingga memberikan rasa kepastian dan menghilangkan keraguan-keraguan[1]. Asy-Syaukānī meringkaskan kenyataan ini dengan berkata:

فَتَقَرَّرَ بِجَمِيْعِ مَا سُقْنَاهُ أَنَّ الْأَحَادِيْثَ الْوَارِدَةَ فِي الْمَهْدِيِّ الْمُنْتَظَرِ مُتَوَاتِرَةٌ.

“Terikrarkanlah dari apa yang telah kami terangkan bahwa hadis-hadis mengenai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu adalah mutawātir.”[2]

Di antara para Sahabatra yang meriwayatkan hadis-hadis tentang Imam Mahdi adalah ‘Alī bin Abī Ṭālibra, Ibnu ‘Abbāsra, Ibnu ‘Umarra, Ṭalḥah bin ‘Ubaidillāhra, ‘Abdullāh bin Mas‘ūdra, Abū Hurairahra, Anas bin Mālikra, Abū Sa‘īd Al-Khudrīra, Ummu Ḥabībahra, Ummu Salamahra, Tsaubānra, Qurrah bin Iyyāsra, ‘Alī Al-Hilālīra, dan ‘Abdullāh bin al-Ḥārits bin Juz’ra. Sementara itu, para imam yang memuat hadis-hadis Imam Mahdi dalam kitab-kitab mereka adalah At-Tirmidzī, Abū Dāwūd, Al-Bazzār, Ibnu Mājah, Al-Ḥākim, Aṭ-Ṭabrānī, dan Abū Ya‘lā Al-Mauṣilī[3]. Mengarifi kenyataan ini, As-Safārīnī menyimpulkan:

فَالْإِيْمَانُ بِخُرُوْجِ الْمَهْدِيِّ وَاجِبٌ، كَمَا هُوَ مُقَرَّرٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَمُدَوَّنٌ فِيْ عَقَائِدِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ.

“Beriman akan keluarnya Imam Mahdi adalah wajib sebagaimana telah diikrarkan oleh para ahli ilmu dan dirumuskan dalam akidah Ahlis-Sunnah Wal-Jamā‘ah.”[4]

Imam Mahdi lahir di Madinah?

Namun, satu hal yang perlu menjadi catatan adalah bahwa ada hadis-hadis yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan Imam Mahdi yang akan datang pada akhir zaman, tetapi dikira oleh sebagian orang seolah-olah berhubungan dengan beliau. Yang paling masyhur di antaranya adalah suatu hadis yang menyatakan bahwa Imam Mahdi akan lahir di Madinah lalu dibaiat di antara rukn dan maqām di dekat Ka’bah, Mekkah, serta wafat di sana. Ummu Salamahra merawikan bahwa Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda:

يَكُوْنُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيْفَةٍ، فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ هَارِبًا إِلٰى مَكَّةَ، فَيَأْتِيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُوْنَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُوْنَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةِ، فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذٰلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَيُبَايِعُوْنَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيَظْهَرُوْنَ عَلَيْهِمْ وَذٰلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةُ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيْمَةَ كَلْبٍ، فَيَقْسِمُ الْمَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُلْقِي الْإِسْلَامَ بِجِرَانِهِ فِي الْأَرْضِ، فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِيْنَ ثُمَّ يُتَوَفّٰى وَيُصَلِّيْ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُوْنَ.

“Akan terjadi suatu perselisihan ketika wafatnya seorang khalifah. Kemudian, seseorang dari penduduk Madinah akan melarikan diri ke Mekkah. Orang-orang Makkah pun mendatanginya dan membawanya keluar, sedangkan ia tidak menyukainya, lalu membaiatnya di antara rukn dan maqām. Suatu pasukan dari kalangan penduduk Syam akan dikerahkan untuk melawannya, tetapi mereka akan mengalami kemunduran di gurun antara Mekkah dan Madinah. Ketika orang-orang melihat hal tersebut, orang-orang pilihan dari kalangan penduduk Syam dan tokoh-tokoh penduduk Irak akan mendatanginya lalu membaiatnya di antara rukn dan maqām. Kemudian, seseorang dari Quraisy yang keluarga ibunya berasal dari suku Kalb akan bangkit lalu mengerahkan pasukan dari suku Kalb dan meraih kemenangan atas mereka. Orang pelarian itu akan membagi-bagikan harta, mengamalkan sunah NabiSAW di tengah-tengah manusia, serta menyebarkan Islam kepada tetangganya di muka bumi. Ia akan hidup selama tujuh tahun lalu wafat dan disalatkan oleh kaum muslimin.”

Di bawah hadis ini, Abū Dāwūd berkomentar:

قَالَ بَعْضُهُمْ عَنْ هِشَامٍ: تِسْعَ سِنِيْنَ. وقَالَ بَعْضُهُمْ: سَبْعَ سِنِيْنَ.

“Sebagian orang mengatakan bahwa pelarian itu akan hidup selama sembilan tahun, sedangkan sebagiannya lagi mengatakan tujuh tahun.”[5]

Apabila kita memerhatikan narasi di atas, akan tampak kepada kita bahwa kata Imam Mahdi sama sekali tidak disebut-sebut di sana. Artinya, pendapat yang menyatakan bahwa riwayat tersebut bercerita tentang Imam Mahdi tidak lebih dari sebuah anggapan belaka karena tidak didasari pada nas yang jelas. Lebih lanjut, jika kita menelaah kitab-kitab tarikh dengan saksama, kita akan mengarifi bahwa hadis itu sebenarnya telah tergenapi dalam sosok ‘Abdullāh bin Zubairra.

Rekonstruksi Sejarah

Setelah Amīr Mu‘āwiyahra selaku khalifah pertama Banī ‘Umayyah, salah satu klan suku Quraisy, wafat pada Rajab 60 H, putra beliau yang bernama Yazīd dibaiat sebagai khalifah baru. Kemudian, Yazīd memerintahkan Gubernur Madinah, Al-Walīd bin ‘Utbah, untuk memaksa Ḥusain bin ‘Alīra, ‘Abdullāh bin ‘Umarra, dan ‘Abdullāh bin Zubairra berbaiat kepadanya tanpa sedikitpun keringanan. Mengetahui hal ini, Ḥusainra dan Ibnu Zubairra melarikan diri ke Mekkah, sedangkan Ibnu ‘Umarra tetap berada di Madinah kendati tidak berbaiat[6].

Sesudah Imam Ḥusainra syahid dalam Peristiwa Karbalā’ pada Muharam 61 H, Ibnu Zubairra banyak memberikan khotbah dan pidato di tengah-tengah masyarakat Mekkah tentang keutamaan cucu Ḥaḍrat RasūlullāhSAW tersebut sekaligus menyarankan mereka untuk melepaskan kesetiaan terhadap Yazīd. Banyak orang pun mengikat tali baiat kepada beliau secara diam-diam. Mereka lalu meminta beliau untuk menampakkan pembaiatan beliau, tetapi yang demikian itu tidak memungkinkan mengingat Gubernur Mekkah saat itu, ‘Amrū bin Sa‘īd, sangat keras meskipun ia lembut dalam beberapa sisi. Barulah setelah Yazīd menggantinya dengan Al-Walīd bin ‘Utbah sebagai Gubernur Dua Kota Suci sekaligus, sebagian besar penduduk Mekkah dan Hijaz condong kepada beliau[7].

Pasca terjadinya Tragedi Ḥarrah pada akhir Zulhijah 63 H, Yazīd memerintahkan komandan 17.000 pasukannya saat itu[8], Muslim bin ‘Uqbah Al-Murrī, untuk melanjutkan ekspedisinya ke Mekkah guna menghabisi ‘Abdullāh bin Zubairra dan para pendukung beliau dari kalangan penduduk Mekkah, Madinah, dan Yamamah. Namun, begitu sampai di suatu daerah bernama Musyallal antara Mekkah dan Madinah, Muslim wafat dan digantikan oleh Ḥuṣain bin Numair As-Sakūnī. Pertempuran antara keduanya berlangsung sejak akhir Muharam 64 H. Taktala kelompok ‘Abdullāh bin Zubairra terdesak pada permulaan Rabiulawal, prajurit Ḥuṣain mulai melempari Ka’bah dengan manjanīq, ketapel raksasa, sampai terbakar. Kemudian, pengepungan dilangsungkan hingga awal Rabiulakhir. Pada waktu pengepungan berlangsung, Yazīd wafat. Mengetahui hal ini, Ḥuṣain dan laskarnya mengurungkan niat untuk menaklukkan Mekkah. Sebaliknya, ia memohon kepada Ibnu Zubairra supaya ia dan tentaranya diizinkan untuk melaksanakan tawaf. Ibnu Zubairra pun mengizinkan. Selain itu, Ḥuṣain bin Numair juga menawarkan untuk baiat kepada ‘Abdullāh bin Zubairra dengan syarat bahwa beliau sendiri harus pergi ke Syam, pusat pemerintahan Banī ‘Umayyah, tetapi beliau menolak. Akhirnya, Ibnu Numair dan tentaranya kembali pulang ke Syam[8].

Praktis, pada 64 H, ‘Abdullāh bin Zubairra tidak memiliki kesulitan lagi dalam mengonsolidasi kekuatan beliau sebagai khalifah. Wilayah-wilayah seperti Kufah, Basrah, Mesir, Yaman, dan Khurasan menyatakan diri berbaiat kepada beliau. Tidak hanya itu, daerah-daerah di Syam, seperti Homs, Qinnasrin, dan Palestina pun turut serta bergabung. Hanya saja, beberapa orang dari suku Kalb di Damaskus dan Yordania tidak ikut berbaiat karena mereka telah membaiat Marwān bin al-Ḥakam sebagai khalifah sepeninggal Mu‘āwiyah bin Yazīd, putra Yazīd bin Mu‘āwiyah, yang hanya memimpin selama 40 hari[9].

Pada awalnya, melihat kekuatan Ibnu Zubairra yang begitu besar dari berbagai negeri, Marwān telah berniat pergi ke Madinah untuk berbaiat kepada beliau serta meminta jaminan keamanan bagi Banī ‘Umayyah. Bahkan, Gubernur Damaskus – yang menjadi ibu kota Banī ‘Umayyah saat itu –, yakni Ḍaḥḥāk bin Qais Al-Fihrīra, telah membaiat penduduknya atas kekhalifahan ‘Abdullāh bin Zubairra. Selain itu, calon khalifah yang sebelumnya diusung dari kalangan ‘Umayyah pun bukanlah Marwān, melainkan putra Yazīd lainnya yang bernama Khālid atas usulan pamannya dari suku Kalb, Ḥassān bin Mālik. Ḥassān pun telah membaiat penduduk Yordania guna melanggengkan kekuasaan Banī ‘Umayyah. Namun, ketika sampai di daerah Adzri‘āt, masih wilayah Syam, Marwān bertemu dengan mantan Gubernur Irak yang telah diusir oleh para penduduknya yang mendukung Ibnu Zubairra, ‘Ubaidullāh bin Ziyād, beserta Ḥuṣain bin Numair As-Sakūnī dan ‘Amrū bin Sa‘īd. Mereka semua menyarankan Marwān untuk mengumumkan diri sebagai khalifah. Marwān pun melakukannya dan ia dibaiat di daerah Jābiyah pada Zulkadah 64 H[11]. Kemudian, Marwān menikahi ibunda Khālid bin Yazīd, Ummu Hāsyim binti Abī Hāsyim bin ‘Utbah bin Rabī‘ah, sehingga orang-orang semakin memandangnya dan berbaiat kepadanya. Dengan begitu, selain para pengikut Ḍaḥḥākra, semua penduduk Syam, termasuk Banī ‘Umayyah, bersepakat atas kekhalifahan Marwān. Atas dasar ini, ia mengumpulkan dan memimpin pasukan sebesar 13.000 tentara untuk melawan Ḍaḥḥākra dengan 30.000 prajuritnya di daerah bernama Marj Rāhiṭ pada Muharam 65 H selama 20 hari. Berkat kelihaian dan kelicikan ‘Ubaidullāh bin Ziyād, pasukan Marwān berhasil meraih kemenangan sekaligus mengukuhkan kekuasaannya atas seluruh Syam. Ḍaḥḥākra sendiri terbunuh di tangan seseorang dari suku Kalb, Zuḥmah bin ‘Abdillāh[12].

Pada tahun 65 H, Marwān dan ‘Amrū bin Sa‘īd berhasil merebut Mesir dari kepenguasaan gubernur yang ditunjuk Ibnu Zubairra, yaitu ‘Abdullāh bin Jaḥdam. Marwān lalu menunjuk putranya, ‘Abd-ul-‘Azīz, selaku gubernur yang baru. Sebagai balasan, Ibnu Zubairra mengutus saudaranya, Muṣ‘ab, untuk menaklukkan Syam yang dihadang oleh ‘Amrū bin Sa‘īd di daerah Palestina hingga ia kembali tanpa memperoleh kemenangan. Dengan begitu, kekuasaan Banī ‘Umayyah menjadi kokoh di sepanjang wilayah Syam dan Mesir. Pada tahun yang sama pula, Marwān mengirimkan dua pasukan lagi guna melemahkan kekuasaan ‘Abdullāh bin Zubairra: pertama di bawah kepanglimaan Ḥubaisy bin Dulajah Al-Qainī untuk menguasai Madinah dan kedua di bawah pimpinan ‘Ubaidullāh bin Ziyād untuk mengambil alih Irak. Di tengah perjalanan, tepatnya di daerah ‘Ain al-Wardah, pasukan ‘Ubaidullāh mendapat perlawanan dari jaisy at-tawwābīn yang menuntut pembalasan akan darah Imam Ḥusainra di bawah komando Sulaimān bin Ṣurad Al-Khuzā‘īra. Walaupun berhasil mengatasinya, tentara ‘Ubaidullāh menarik diri setelah mendengar berita  meninggalnya Marwān pada 3 Ramadan karena dibunuh oleh istrinya sendiri, Ummu Hāsyim, yang mendekapnya dengan bantal sewaktu ia tidur[13].

Sebagai khalifah pengganti, ‘Abd-ul-Malik bin Marwān dibaiat oleh para penduduk Syam dan Mesir. Sementara itu, pasukan Ḥubaisy berhasil merangsek ke Madinah hingga membuat Gubernurnya saat itu, Jābir bin al-Aswad bin ‘Auf, melarikan diri. Mengarifi keadaan tersebut, Ḥārits bin ‘Abdillāh bin Abī Rabī‘ah selaku Gubernur Basrah mengirim pasukan balasan untuk mengeluarkan Ḥubaisy dari Madinah. Akhirnya, ia bersama para prajuritnya keluar untuk bertempur. Memanfaatkan kekosongan Madinah, ‘Abdullāh bin Zubairra lantas menempatkan ‘Abbās bin Sahl bin Sa‘d pada pucuk kepemimpinan kota suci itu. Kemudian, beliau juga memerintahkan ‘Abbās untuk mengejar Ḥubaisy. Mereka pun berhasil dikejar di daerah Zabadah. Sebagian tentara Ḥubaisy terbunuh dan ia sendiri mengalami nasib yang serupa karena panah Yazīd bin Siyāh. Akhirnya, sisa tentara yang masih bertahan terpukul mundur hingga harus pulang ke Syam, sedangkan 500 orang di antara mereka terkepung di Madinah hingga ditangkap dan dihukum mati[14].

Perseteruan antara Ibnu Zubairra dan Banū ‘Umayyah sempat mereda selama enam tahun. Bahkan, pada ibadah haji tahun 68 H, empat bendera dari kelompok-kelompok kaum muslimin yang berlainan saat itu berkibar di Padang ‘Arafah: yang pertama adalah bendera Muḥammad bin al-Ḥanafiyyah yang menjadi representasi Syiah, yang kedua adalah Najdah Al-Ḥarūrī dari Khawārij, yang ketiga adalah Banī ‘Umayyah, dan yang terakhir adalah Ibnu Zubairra[15]. Barulah pada 71 H, cekcok antara keduanya kembali memanas dengan invasi ‘Abd-ul-Malik bin Marwān ke wilayah Irak yang saat itu berada di bawah kegubernuran Muṣ‘ab bin Zubair. Kedua pasukan bertemu di daerah Maskin, dekat Biara Jātsālīq di kota Basrah. ‘Abd-ul-Malik bin Marwān bertindak lihai pada peperangan ini dengan mengirimi setiap pembesar Basrah sepucuk surat guna mengundang mereka untuk membelot kepadanya seraya menjanjikan kedudukan pemerintahan bagi mereka apabila ia menang. Sebagian besar fraksi dari pihak Muṣ‘ab pun lari dan bergabung dengan ‘Abd-ul-Malik sehingga ia menjadi sangat lemah. Akhirnya, Muṣ‘ab terbunuh di medan pertempuran pada 13 Jumadilula atau Jumadilakhir di tangan ‘Ubaidullāh bin Ziyād bin Ẓaibān At-Tamīmī[16].

Setahun berikutnya, yakni pada 72 H, ‘Abd-ul-Malik bin Marwān mengajak Gubernur Khurasan, ‘Abdullāh bin Khāzimra, untuk melepaskan kesetiaan terhadap ‘Abdullāh bin Zubairra dan berbaiat kepadanya. Ajakan ini ditolak oleh beliau. Namun, wakil beliau yang bernama Bukair bin Wisyāḥ menyambut undangan tersebut karena ia telah dijanjikan pemerintahan Khurasan andaikata kemenangan ada di pihak Banī ‘Umayyah. Peperangan pun tercipta antara keduanya. Ibnu Khāzimra terbunuh dalam peperangan itu di tangan Wakī‘ bin ‘Umairah dan Bukair ditunjuk sebagai Gubernur Khurasan yang baru[17]. Pada tahun yang sama pula, ‘Abd-ul-Malik berhasil merebut Madinah dari Ibnu Zubairra dan menetapkan Ṭāriq bin ‘Amrū sebagai Gubernurnya[18].

Pada tahun 73 H, tepatnya 17 Jumadilula, ‘Abdullāh bin Zubairra akhirnya mereguk piala kesyahidan setelah dikepung selama lebih dari lima bulan oleh pasukan Al-Ḥajjāj bin Yūsuf Ats-Tsaqafī di bawah titah ‘Abd-ul-Malik bin Marwān. Pengepungan dilakukan dari enam pintu: Pintu yang menghadap pintu Ka’bah oleh para prajurit dari Homs, pintu Banī Syaibah oleh para prajurit dari Damaskus, pintu Ṣafā’ oleh para prajurit dari Yordania, pintu Banī Jumaḥ oleh para prajurit dari Palestina, pintu Banī Sahm oleh para prajurit dari Qinnasrin, serta pintu al-Abṭaḥ dengan Al-Ḥajjāj bin Yūsuf dan Ṭāriq bin ‘Amrū selaku komandannya. Kala itu juga, peristiwa pelemparan Ka’bah dengan manjanīq kembali terulang, kali ini dengan lima buah ketapel raksasa tersebut. Para pengepung menahan pasokan makanan untuk masuk ke Mekkah hingga para penduduknya kelaparan dan mereka terpaksa minum dari Sumur Zamzam[19].

Ketika Ibnu ‘Umarra mengetahui kabar kewafatan Ibnu Zubairra, beliau berujar:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْكَ يَا أَبَا خُبَيْبٍ، أَمَّا وَاللهِ لَقَدْ كُنْتُ أَنْهَاكَ عَنْ هٰذَا، وَلَقْدَ كُنْتَ وَاللهِ صَوَّامًا قَوَّامًا وَصُوْلًا لِلرَّحْمِ.

“Semoga Allah merahmatimu, wahai Abū Khubaib! Demi Allah! Sungguh, Aku telah mencegahmu untuk tidak masuk ke dalam persengketaan ini. Engkau, demi Allah, sungguh merupakan orang yang banyak berpuasa, bersalat, dan menyambung tali silaturahim.”[20]

Demikian juga, Ibnu ‘Abbāsra berkomentar sewaktu Ibnu Zubairra wafat:

كَانَ قَارِئًا لِكِتَابِ اللهِ، مُتَّبِعًا لِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ، قَانِتًا للهِ، صَائِمًا فِي الْهَوَاجِرِ مِنْ مَخَافَةِ اللهِ، ابْنَ حَوَارِيْ رَسُوْلِ اللهِ، وَأُمُّهُ بِنْتُ الصِدَّيْقِ، وَخَالَتُهُ عَائِشَةُ حَبِيْبَةُ حَبِيْبِ اللهِ، زَوْجَةُ رَسُوْلِ الله، فَلَا يَجْهَلُ حَقَّهُ إِلَّا مَنْ أَعْمَاهُ اللهُ .

“Beliau adalah seorang pembaca Kitab Allah, pengikut sunah RasūlullāhSAW, penurut kepada Allah, yang berpuasa di tempat-tempat sunyi karena takut akan Allah. Beliau adalah putra hawari Ḥaḍrat RasūlullāhSAW, ibunda beliau adalah putri Ḥaḍrat Aṣ-Ṣiddīqra, bibi beliau adalah Ḥaḍrat ‘Ā’isyahra, sang kekasih dari Kekasih Allah, istri Ḥaḍrat RasūlullāhSAW. Oleh karena itu,  tak ada yang tidak mengetahui hak beliau, kecuali ia yang dibutakan oleh Allah.”[21]

Dari rangkaian peristiwa-peristiwa sejarah ini, kita bisa memastikan bahwa sosok yang dinubuatkan dalam hadis Sunan Abī Dāwūd di atas bukanlah Imam Mahdi yang akan muncul pada akhir zaman, melainkan Ḥaḍrat ‘Abdullāh bin Zubairra. Artinya, pendapat yang menyatakan bahwa Imam Mahdi akan lahir di Madinah dan meninggal di Mekkah adalah keliru. Sekarang, pertanyaannya adalah: Kalau begitu, dari manakah Imam Mahdi akan berasal?

Dari Timur, Khurasan

Jika kita menelaah keterangan-keterangan hadis, akan tampak kepada kita bahwa kemunculan Imam Mahdi pada akhir zaman ialah dari sebelah timur. Ḥaḍrat ‘Abdullāh bin al-Ḥārits bin Juz’ra meriwayatkan bahwa Nabi SuciSAW bersabda:

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ الْمَشْرِقِ فَيُوَطِّئُوْنَ لِلْمَهْدِيِّ.

“Sekolompok orang akan keluar dari timur sehingga mereka bisa mempersiapkan kekuasaan bagi Imam Mahdi.”[22]

Demikian juga, Ḥaḍrat Tsaubānra merawikan bahwa Nabi SuciSAW bersabda:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمُ ابْنُ خَلِيْفَةٍ، ثُمَّ لَا يَصِيْرُ إِلٰى وَاحِدٍ مِنْهُمْ، ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّوْدُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، فَيَقْتُلُوْنَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ، ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا لَا أَحْفَظُهُ، فَقَالَ: فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَبَايِعُوْهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ، فَإِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِيُّ.

“Akan saling bersengketa soal harta kalian tiga orang yang semuanya merupakan putra-putra seorang khalifah. Akan tetapi, harta itu tidak akan menjadi milik salah seorang pun dari antara mereka. Kemudian, akan terbit bendera-bendera hitam dari arah timur lalu mereka akan memerangi kalian dengan peperangan yang belum pernah diperagakan oleh satupun kaum. Kemudian, Nabi SuciSAW menyebutkan sesuatu yang tidak Aku ingat. Beliau lalu berkata: Apabila kalian melihatnya, berbaiatlah kepadanya walaupun harus merangkak di atas salju sebab ia adalah Khalifah Allah, Imam Mahdi.”[23]

Apa yang secara spesifik dimaksud dengan “sebelah timur” dalam hadis itu? Apabila kita membuka lagi lembaran-lembaran kitab hadis, kita akan menjumpai bahwa yang dimaksud dengannya adalah Khurasan. Masih dari Ḥaḍrat Tsaubānra, diceritakan bahwa Nabi SuciSAW pernah bersabda:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ هَذِهِ ثَلاثَةٌ كُلُّهُمْ وَلَدُ خَلِيْفَةٍ، لا تَصِيْرُ إِلٰى وَاحِدٍ مِنْهُمْ، ثُمَّ تُقْبِلُ الرَّايَاتُ السُّوْدُ مِنْ خُرَاسَانَ، فَيَقْتُلُوْنَكُمْ مَقْتَلَةً لَمْ تَرَوْا مِثْلَهَا، ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا: فَإِذَا كَانَ ذٰلِكَ فَأْتُوْهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ.

“Akan saling bersengketa soal harta kalian tiga orang yang semuanya merupakan putra-putra seorang khalifah. Akan tetapi, harta itu tidak akan menjadi milik salah seorang pun dari antara mereka. Kemudian, akan muncul bendera-bendera hitam dari Khurasan lalu mereka akan memerangi kalian dengan peperangan yang sama sekali belum pernah dilihat oleh kalian. Kemudian, Nabi SuciSAW menyebutkan sesuatu. Beliau lalu berkata: Apabila keadannya demikian, datanglah kepadanya walaupun harus merangkak di atas salju sebab ia adalah Khalifah Allah.”

Di bawah hadis ini, ada keterangan:

وَفِيْ رِوَايَةِ ابْنِ عَبْدَانَ: فَإِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِيُّ.

“Dalam riwayat Ibnu ‘Abdān: Sebab, ia adalah Khalifah Allah, Imam Mahdi.”[24]

Jadi, kedatangan Imam Mahdi pada akhir zaman akan berawal dari Khurasan, bukan Madinah.

Letak Khurasan

Dalam sejarah Islam, Khurasan adalah wilayah yang terkenal sebagai pusat keilmuan dan kebudayaan. Para ahli geografi Islam memberi batas Khurasan sebagai berikut:

خُرَاسَانُ: بِلَادٌ وَاسِعَةٌ. أَوَّلُ حُدُوْدِهَا مِمَّا يَلِيُ الْعِرَاقَ أَزَاذَوَرْدُ قَصْبَةُ جُوَيْنَ، وَبَيْهَقُ، وَآخِرُ حُدُوْدِهَا مِمَّا يَلِيُ الْهِنْدَ طَخَارِسْتَانُ، وَغَزْنَةُ، وَسِجِسْتَانُ.

“Khurasan adalah wilayah dari negeri-negeri yang luas. Batas pertamanya yang meliputi Irak adalah Azadvarad, yakni Benteng Juwain, serta Baihaq. Adapun batas akhirnya yang meliputi India adalah Takharistan, Ghazna, serta Sijistan.”[25]

Pendahulu Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas dari Khurasan

Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, mendakwahkan diri sebagai Imam Mahdi pada tahun 1891. Dari keterangan historis, diketahui bahwa pendahulu beliau merupakan Haji Barlās, paman Timur Leng, yang mendiami satu daerah di Persia bernama Kish. Setelah Timur Leng menaklukkan daerah tersebut, keluarga Barlās pindah ke wilayah Khurasan dan menetap di sana dalam jangka waktu yang lama. Barulah pada abad ke-16 Masehi, salah seorang anggota keluarga itu, Mīrzā Hādī Beig, bermigrasi ke India beserta 200 orang pengikutnya lalu berkediaman di Qadian, Punjab[26]. Jadi, berdasarkan data hadis dan sejarah, pendakwahan Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas selaku Imam Mahdi pada akhir zaman memang benar adanya.

Catatan Kaki

[1] Jalāl-ud-Dīn As-Suyūṭī, Tadrīb ar-Rāwī Fī Syarḥ Taqrīb an-Nawawī, vol. 1 (Beirut: Maktabat al-Kautsar, 1415 H), hlm. 142.

[2] Muḥammad Syams-ul-Ḥaqq Al-‘Aẓīmabādī, ‘Aun al-Ma‘būd Syarḥ Sunan Abī Dāwūd, vol. 11 (Madinah: Al-Maktabah as-Salafiyyah, 1969 M/1389 H), hlm. 458.

[3] Ibnu Khaldūn, Al-Muqaddimah, vol. 1 (Damaskus: Dār Ya‘rab, 2004 M/1425 H), hlm. 514.

[4] Muḥammad bin Aḥmad As-Safārīnī, Lawāmi‘ al-Anwār al-Bahiyyah, vol. 2 (Damaskus: Mu’assasat al-Khāfiqīn, 1992 M/1402 H), hlm. 84.

[5] Sunan Abī Dāwūd, Kitāb al-Mahdī, no. 4286.

[6] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 11 (Kairo: Hijr, 1997a M/1417a H), hh. 466-469.

[7] Ibid, hh. 599, 607.

[8] Ibid, hlm. 616.

[8] Ibid, hh. 633-637.

[9] Ibid, hh. 662, 666-668.

[10] Ibid, hlm. 715.

[11] Ibid, hh. 669-672.

[12] Ibid, hlm. 673-675.

[13] Ibid, hh. 703-705.

[14] Ibid, hlm. 715.

[15] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 12 (Kairo: Hijr, 1997b M/1417b H), hlm. 76.

[16] Ibid, hh. 137-140.

[17] Ibid, hh. 166-167.

[18] Ibid, hlm. 167.

[19] Ibid, hh. 177-178, 182.

[20] Ibid, hlm. 185.

[21] Ibid, hlm. 191.

[22] Sunan Ibni Mājah, Kitāb al-Fitan, Bāb Khurūj al-Mahdī, no. 4088.

[23] Sunan Ibni Mājah, Kitāb al-Fitan, Bāb Khurūj al-Mahdī, no. 4084.

[24] Abū Bakr Al-Baihaqī, Dalā’il an-Nubuwwah Wa Ma‘rifat Aḥwāl Ṣāḥib asy-Syarī‘ah, vol. 6 (Kairo: Dār al-Bayān Li at-Turāts, 1988 M/1408 H), hlm. 515.

[25] Yāqūt Al-Ḥamawī, Mu‘jam al-Buldān, vol. 2 (Beirut: Dār Ṣādir, 1977 M/1397 H), hlm. 350.

[26] Ḥaḍrat Mīrzā Basyīr-ud-Dīn Maḥmūd Aḥmadra, Hadhrat Ahmad (Surrey: Islam International Publications Limited, 1998), hlm. 9.

Jumat, 17 Maret 2017

Evolusi Kerohanian Nabi Suci Muḥammad (SAW)

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Evolusi Kerohanian Nabi Suci MuḥammadSAW

Road to the Hills, by Ann Burnham

Dalam sejarah Islam, kita membaca bahwa ada beberapa ulama, khususnya dari kalangan sufi, yang mengutarakan konsepsi tentang ‘ālam ṣaghīr (mikrokosmos) serta ‘ālam kabīr (makrokosmos). Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmad Qādiānīas, pun turut memberikan penerangan mengenai hal tersebut sembari menjelaskan soal taraqqiyyāt (evolusi) kerohanian Nabi SuciSAW. Dalam Al-Khuṭbah al-Ilhāmiyyah, beliau mengungkapkan:


“Sesungguhnya zaman kerohanian Nabi kitaSAW dimulai dari ribuan kelima dan sempurna pada akhir ribuan keenam. Ke arah inilah Allah Taala mengisyaratkan dalam ayat:

لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ ﴿﴾

Perinciannya adalah bahwa Nabi kitaSAW datang di atas jejak Ādamas dan bahwa Ādamas mulai diciptakan pada hari keenam, yakni segala bagian huwiyyah (identitas) dan hakikat māhiyyah (esensi)-nya.

Sebab, bumi dengan segala makhluk hidup di permukaannya dan langit dengan segala benda yang beredar di atasnya merupakan hakikat huwiyyah Ādamas seolah-olah tubuh kebendaannya berpindah dari hakikat jamādiyyah (kebendamatian) kepada hakikat nabātiyyah (ketetumbuhan) lalu dari hakikat nabātiyyah kepada huwiyyah yang sifatnya aiwāniyyah (kebinatangan). Kemudian, ia berpindah menurut sisi rohani dari kesempurnaan kaukabiyyah (kebintangan) kepada kesempurnaan qamariyyah (kebulanan) lalu dari cahaya qamariyyah kepada kemilau syamsiyyah (kemataharian). Semua perpindahan ini merupakan manifestasi perkembangan alam sampai tingkatan hakikat insāniyyah (kemanusiaan) seolah-olah manusia pada suatu waktu adalah benda mati, pada waktu lain tumbuhan, berikutnya adalah hewan, seterusnya bintang, bulan, dan matahari sampai akhirnya semua tuntutan fitrahnya berupa kekuatan-kekuatan langit dan bumi dikumpulkan pada hari kelima atas karunia Allah, Sebaik-baik Pencipta.

Dengan begitu, semua ciptaan adalah suatu entitas sempurna bagi Ādamas atau cermin bagi wujudnya yang diagungkan dan Allah dimuliakan-Nya. Kemudian, Allah berkehendak menampakkan perkara-perkara yang tersembunyi ini secara sempurna dalam diri seseorang yang menjadi manifestasi sempurna semua atribut ini. Menampaklah, lantas, kerohanian Ādamas dengan penampakkan yang menyeluruh dan sempurna pada saat terakhir di hari Jumat, yakni di hari keenam pada jam keenam.

Demikian pula, kerohanian NabiSAW terbit pada ribuan kelima dengan garis besar sifat-sifatnya. Akan tetapi, zaman itu bukanlah akhir dari perkembangannya. Sebaliknya, itu adalah fondasi bagi tingkatan-tingkatan kemuliaannya. Kemudian, sempurna dan menampaklah ia pada akhir ribuaan keenam, yakni pada saat ini, seperti halnya Ādamas diciptakan pada hari keenam dengan seizin Allah, Sebaik-baik Pencipta. Kerohanian NabiSAW pun mengambil suatu manifestasi dari umat beliau guna mencapai kesempurnaan muncul dan merajalelanya cahaya beliau sebagaimana telah dijanjikan oleh Allah dalam Kitab-Nya Yang Terang.

Akulah manifestasi dan cahaya yang telah dijanjikan itu! Oleh sebab itu, berimanlah dan janganlah menggabungkan diri dengan orang-orang yang ingkar! Bila engkau ingin, bacalah ayat:

هُوَ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ ﴿﴾

Lantas, berpikirlah seperti orang-orang yang mendapatkan petunjuk! Sekarang inilah waktu penampakan dan waktu sempurnanya kebermunculan kerohanian NabiSAW dari Tuhan Yang Mahaperkasa, wahai kaum muslimin! Maka dari itu, terdapat dalam hadis bahwa beliau diutus pada akhir ribuan keenam padahal beliau diutus pada ribuan keenam dengan pasti dan meyakinkan. Jadi, tidak diragukan bahwa ini merupakan isyarat ke arah waktu penampakan yang paripurna, penggenapan tujuan, sempurnanya kebermunculan kerohanian, serta hari-hari bergelombangnya pancaran-pancaran Muḥammadiyyat di seantero alam semesta. Itulah akhir ribuan keenam yang telah ditetapkan menjadi zaman turunnya Masīḥ Mau‘ūd sebagaimana dipahami dari kitab-kitab para nabi. Sungguh, zaman ini merupakan zaman penampakan kaki beliau dari Hadirat Yang Mahaesa sebagaimana dipahami dari ayat:

وَآخَرِيْنَ مِنْهُمْ ﴿﴾

serta ayat-ayat lainnya dari lembaran-lembaran Kitab Suci. Berpikirlah, lantas, jika engkau memang berakal!”

Dari sabda beliau ini, kita bisa mereguk piala-piala makrifat ilahi yang begitu murni dan begitu banyak. Semoga Allah Taala senantiasa mencahayai kita dengan cahaya-Nya yang tidak pernah padam! Āmīn!

Sumber; Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Al-Khuṭbah al-Ilhāmiyyah (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2009), hh. 70-71.

Jumat, 24 Februari 2017

Pesan Ahmadiyah

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Pesan Ahmadiyah

Versi ringkas dari tulisan ini telah dicetak dalam bentuk brosur dengan judul yang sama sebanyak 1.000 ekslempar

Dua Karakteristik Nabi MuḥammadSAW

Nabi kita, Muḥammad MuṣṭafāSAW, adalah Khātam-un-Nabiyyīn, yakni nabi yang paling mulia. Sebagai utusan Tuhan yang terbaik, beliau dianugerahi dengan ajaran yang kāmil (sempurna) dan syāmil (menyeluruh). Hal ini digambarkan dalam ayat keempat Surah Al-Mā’idah yang berbunyi:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِيْنًا ۚ ﴿﴾

“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian teruntuk kalian, telah Kuparipurnakan juga nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Kuridai pula Islam sebagai agama kalian.”

Dalam catatan sejarah, ayat ini turun sehabis Asar pada Jumat, 10 Zulhijah 10 H, saat Nabi SuciSAW sedang berwukuf di atas unta beliau, al-‘Aḍbā’, dalam rangkaian manasik haji wadak[1].

Jadi, pada hari Arafah tahun kesepuluh setelah hijrah, syariat Islam dengan kesempurnaannya resmi menjadi segel yang menasakh syariat-syariat masa lampau yang masih bercacat. Sampai hari kiamat, hanya syariat Islamlah yang akan langgeng dan berlaku.

Menariknya, selaku Khātam-un-Nabiyyīn, Nabi kitaSAW tidak hanya dikaruniai ajaran yang sempurna, tetapi juga diberi-Nya kerasulan universal yang dengannya ajaran yang kāmil dan syāmil tadi dapat menjangkau semua bangsa dan semua tempat di seantero dunia. Dalam Surah Al-A‘rāf ayat 159, beliau diperintah:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعًا الَّذِيْ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ﴿﴾

“Katakanlah: Wahai manusia! Sesungguhnya, Aku adalah rasul Allah, yang kepunyaan-Nya sajalah kerajaan langit dan bumi, untuk kalian semuanya.”

Dengan demikian, penasakhan Islam terhadap agama-agama terdahulu dan kemenangannya atas mereka bisa terlaksana. Allah Taala berfirman dalam Surah Aṣ-Ṣaff ayat 10:

هُوَ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ﴿﴾

“Dialah yang telah mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan agama kebenaran supaya ia memenangkannya atas semua agama kendati orang-orang musyrik tidak menyukainya.”

Kedatangan ‘Īsāas

Namun, berbeda dengan ayat kesempurnaan Islam di atas, ayat penyebaran agama ilahi ini belumlah tergenapi secara utuh pada masa hidup Nabi SuciSAW. Memang, pada masa hidup beliau, Islam telah mengalami keunggulan. Hanya saja, keunggulan tersebut baru berlaku setidaknya atas lima agama saja yang secara langsung bersinggungan dengannya, yaitu agama pagan, Yahudi, Kristen, Majusi, serta kaum Sabean[2]. Dakwah Islam pun pada waktu itu, selain di daerah Abbesinia[3], belum lagi menembus tapal-tapal batas negeri-negeri Arab. Praktis, kala NabiSAW wafat pada Rabiulawal 10 H atau 632 M, pemerintahan dan kekuasaan Islam baru membentangi jazirah Arab bagian barat-tengah. Semenanjung Arabia sendiri baru ditaklukkan secara menyeluruh selama dua tahun kemudian pada era kekhalifahan Ḥaḍrat Abū Bakrra, sedangkan Romawi dan sebagian besar Persia ditundukkan di bawah administrasi Khalifah ‘Umarra. Sementara itu, sisa-sisa wilayah Dinasti Sassania berupa Armenia, Azerbaijan, dan Khurasan jatuh ke tangan kaum muslimin sewaktu Ḥaḍrat ‘Utsmanra menjadi khalifah[4].

Lantas, kapankah penggenapan ayat kesepuluh dari Surah Aṣ-Ṣaff itu akan terjadi? Para ulama salaf sepakat bahwa penggenapannya akan terjadi pada masa keluarnya ‘Īsāas. Ibnu Jarīr Aṭ-Ṭabarī (w. 310 H), setelah mengumpulkan riwayat-riwayat dari para Sahabatra, tabiin, dan para pendahulu Islam yang salih, menyimpulkan bahwa ayat tersebut akan tergenapi saat:

خُرُوْجُ عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ.

“Keluarnya ‘Īsā bin Maryamas.”[5]

Dengan begitu, ayat kepengutusan Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bagi seluruh umat manusia dan penyebaran agama yang beliau bawa ke seluruh pelosok dunia akan terejawantahkan dalam sosok ‘Īsāas yang akan datang. Dengan kata lain, ‘Īsāas yang akan datang adalah perwujudan kebangkitan kedua Nabi MuḥammadSAW di tengah-tengah kaum ākharīn setelah sebelumnya beliau muncul di antara kaum ummiyyīn sebagaimana tertera dalam Surah Al-Jumu‘ah ayat 3 dan 4. Oleh sebab itu, beliau diriwayatkan ‘Abdullāh bin ‘Amrūra pernah bersabda:

كَيْفَ تَهْلِكُ أُمَّةٌ أَنَا أَوَّلَهَا وَعِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ آخِرَهَا.

“Bagaimana mungkin suatu umat yang Aku berada pada awalnya dan ‘Īsā bin Maryamas berada pada akhirnya akan binasa?”[6]

Masa Kegelapan

Kendati demikian, Nabi Suci MuḥammadSAW juga memperingatkan bahwa masa antara beliau dan ‘Īsāas yang dijanjikan akan dipenuhi dengan kebatilan. ‘Abdullāh bin As-Sa‘dīra menarasikan bahwa NabiSAW bersabda:

إِنَّ خِيَارَ أُمَّتِيْ أَوَّلُهَا وَآخِرُهَا، وَبَيْنَ ذَلِكَ ثَبَجٌ أَعْوَجُ، لَيْسُوْا مِنْ أُمَّتِيْ وَلَسْتُ مِنْهُمْ.

“Sesungguhnya, orang-orang terbaik dari umatku adalah golongan awalnya dan golongan akhirnya. Di antara kedua terdapat kelompok masa pertengahan yang menyimpang. Tidaklah mereka berasal dari umatku dan Aku pun tidak berasal dari mereka.”[7]

Golongan pertama yang dimaksud dalam hadis di atas adalah orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama Islam. Kemudian, akan muncul kelompok pertengahan yang menyimpang hingga Allah Taala membangkitkan ‘Īsāas yang dijanjikan. ‘Imrān bin Ḥuṣainra merawikan bahwa Ḥaḍrat RasūlullāhSAW pernah bersabda:

خَيْرُكُمْ قَرْنِيْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُم، ثُمَّ يَكُوْنُ بَعْدَهُمْ قَوْمٌ يَشْهَدُوْنَ وَلَا يُسْتَشْهَدُوْنَ، وَيَخُوْنُوْنَ وَلَا يُؤْتَمَنُوْنَ، وَيَنْذُرُوْنَ وَلَا يَفُوْنَ، وَيَظْهَرُ فِيْهِمُ السِّمَنُ.

“Sebaik-baik kalian adalah mereka yang hidup pada abadku, kemudian mereka yang datang berikutnya, dan kemudian mereka yang datang berikutnya. Setelah itu, akan muncul orang-orang yang memberi kesaksian tanpa diminta, berkhianat lagi tak dapat dipercaya, bernazar tanpa memenuhinya, serta tampak pada diri mereka kegemukan.”[8]

Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī (w. 852 H), mengenai makna hadis di atas, menjelaskan:

وَهٰذَا مَحْمُوْلٌ عَلَى الْغَالِبِ وَالْأَكْثَرِيَّةِ، فَقَدْ وُجِدَ فِيْمَنْ بَعْدَ الصَّحَابَةِ مِنَ الْقَرْنَيْنِ مَنْ وُجِدَتْ فِيْهِ الصِّفَاتُ الْمَذْكُوْرَةُ الْمَذْمُوْمَةُ، لٰكِنْ بِقِلَّةٍ، بِخِلَافِ مَنْ بَعْدَ الْقُرُوْنِ الثَّلَاثَةِ فَإِنَّ ذٰلِكَ كَثُرَ فِيْهِمْ وَاشْتَهَرَ.

“Hadis ini dimaksudkan untuk golongan mayoritasnya. Sifat-sifat tercela itu sebenarnya sudah dijumpai dalam diri orang-orang pada dua kurun pertama sesudah para Sahabatra, tetapi dalam hitungan yang sedikit. Berbeda dengan mereka, sifat-sifat tersebut dijumpai dalam diri orang-orang yang hidup sesudah abad ketika dalam bilangan yang banyak dan tersebar.”[9]

Memang, sejak abad pertama pun, tepatnya sejak dibunuhnya Khalifah ‘Umarra yang digelari sebagai pintu fitnah[10] pada Zulhijah 23 H[11], kekacauan dan konflik internal telah menimpa sendi-sendi persatuan umat Islam. Pensyahidan Khalifah ‘Utsmānra pada Zulhijah 35 H[12], Perang Jamal pada Rabiulakhir 36 H[13], Perang Ṣiffīn yang berlangsung selama berbulan-bulan pada 37 H[14], Perang Nahrawān masih pada tahun yang sama[15], serta disyahidkannya Khalifah ‘Alīra  pada bulan Ramadan 40 H[16] yang menandakan berakhirnya 30 tahun silsilah Khulafā’-ur-Rāsyidīn sebagaimana dinubuatkan dalam hadis Safīnahra[17] adalah segelintir dari peristiwa-peristiwa besar yang merusak persatuan kaum muslimin pada zaman awal. Setelahnya, pembunuhan Imam Ḥusainra pada Muharam 61 H[18], Tragedi Ḥarrah pada Zulhijah 63 H[19] serta pembunuhan ‘Abdullāh bin Zubairra pada Jumadilula 73 H[20] juga merupakan kejadian-kejadian yang patut diketengahkan.

Namun, mayoritas kaum muslimin selama tiga kurun pertama belumlah rusak sebab mereka masih memiliki kesadaran yang tinggi sebagai satu-kesatuan umat kala dihadapkan dengan musuh. Adz-Dzahabī (w. 784 H) melukiskan kenyataan itu dengan mengatakan:

اَلْقَوَّالُوْنَ بِالْحَقِّ كَثِيْرٌ، وَالْعِبَادُ مُتَوَافِرُوْنَ، وَالنَّاسُ فِيْ بُلَهْنِيَةٍ مِنَ الْعَيْشِ بِالْأَمْنِ، وَكَثْرَةُ الْجٌيُوْشِ الْمُحَمَّدِيَّةِ مِنْ أَقْصَى الْمَغْرِبِ وَجَزِيْرَةِ الْأَنْدَلُسِ وَإِلٰى قَرَيْبِ مَمْلَكَةِ الْخَطَا وَبَعْضِ الْهِنْدِ وِإِلَى الْحَبْشَةِ.

“Para pemerkata kebenaran berjumlah banyak, para ahli ibadah berlimpah-ruah, dan orang-orang pun merasakan kelapangan hidup dengan aman. Tentara-tentara MuḥammadSAW dalam jumlah besar terbentang dari ujung Maghrib dan Jazirah Andalus sampai Afghanistan dan dari sebagian India sampai Etiopia”[21]

Barulah setelah lewat 300 tahun dari kebangkitan pertama Nabi SuciSAW, golongan mayoritas dalam umat mulai memburuk dengan dimasukkanya kekuatan-kekuatan Kristen dalam perpolitikan kaum muslimin. Hal ini diawali dengan persekongkolan Dinasti ‘Abbāsiyyah di Irak dengan Dinasti Carolongian di Prancis melalui pertukaran duta besar dan hadiah selama penghujung abad kedua Hijriah, terutama pada era Ar-Rasyīd dan Al-Ma’mūn, guna melawan Dinasti ‘Umayyah di Andalusia[22] yang dibalas oleh Dinasti ‘Umayyah lewat persekutuan dengan Dinasti Byzantium di Turki semasa ‘Abd-ur-Raḥmān Al-Ausaṭ pada permulaan abad ketiga Hijriah[23].

Alih-alih berhenti, percekcokan internal tersebut justru semakin meruncing dari tahun ke tahun. Pada 487 H, haji sempat tidak dilaksanakan karena para sultan dari kerajaan-kerajaan Islam saling bertentangan[24]. Akibatnya, wibawa dan muruah Islam melemah di mata para musuh. Terbukti, empat tahun kemudian, persisnya Jumadilula 490 H, pasukan salib berhasil menaklukkan Antiokia untuk pertama kalinya[25]. Akhirnya, Yerusalem pun mereka kuasai dengan kekuatan satu juta tentara seraya membunuhi 70.000 orang-orang Islam[26]. Meskipun Saladin berhasil merebut kembali Baitulmakdis selepas Perang Ḥiṭṭīn pada Rajab 583 H[27], lemahnya keadaan kaum muslimin tidak pernah bisa diperbaiki lagi. Tidak sampai seabad sesudahnya, Dinasti ‘Abbāsiyah runtuh dengan dibumihanguskannya Baghdad oleh 200.000 prajurit Mongol di bawah komando Hulāgu Khān pada Muharam 656 H yang menelan korban sebanyak 800.000-2.000.000 jiwa. Khalifah Al-Musta‘ṣim sendiri terbunuh pada 14 Safar 656 H dan kuburannya disembunyikan. Bau bangkai yang dihasilkan dari tumpukan mayat ini mewabah pada tahun yang sama hingga ke Syiria[28].

Masa Kebangkitan

Sejak saat itu, kelemahan kaum muslimin kian menjadi-jadi. Dalam Surah As-Sajdah ayat 6, Allah Taala menggambarkan bahwa zaman kemunduran Islam tersebut akan berlangsung seribu tahun sebagaimana difirmankan-Nya:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ ﴿﴾

“Dia mengatur urusan ini dari langit ke bumi lalu kembali kepada-Nya pada satu hari yang kadarnya sama dengan seribu tahun dari apa yang kalian hitung.”

Artinya, bila ditambahkan seribu tahun setelah 300 tahun era keemasan Islam, jumlah yang akan didapat adalah 1300 tahun. Dengan kata lain, akhir abad ke-13 Hijriah merupakan kulminasi dari dekadensi kaum muslimin seolah-olah matahari Islam telah tenggelam di ufuk barat. Hal ini terejawantahkan dengan runtuhnya Dinasti Mughāl di India runtuh setelah Delhi bertekuk lutut terhadap kekuasaan Inggris pada 21 Mei 1857 M atau 1274 H[29]. Sementara itu, Dinasti ‘Utsmāniyyah di Turki jatuh pada 3 Maret 1924 yang bertepatan dengan 1342 H[30].

Oleh sebab itu, merupakan suatu keharusan bahwa awal abad ke-14 Hijriah menjadi waktu diutusnya Nabi Suci MuḥammadSAW untuk yang kedua kalinya melalui kedatangan ‘Īsāas yang dijanjikan sehingga kebangkitan Islam pada akhir zaman dapat terlaksana seperti pada awal zaman dan matahari Islam yang telah terbenam tadi dapat diterbitkan kembali. Akan tetapi, pertanyaannya, mengapakah hingga kini ‘Īsāas yang dijanjikan itu tidak kunjung datang?

‘Īsāas Yang Dahulu Sudah Wafat

Jawabannya adalah bahwa sebagian besar orang selama ini telah keliru menganggap Nabi ‘Īsāas masih hidup di langit. Padahal, menurut Alquranul Karim, semua nabi sebelum Nabi MuḥammadSAW sudah wafat. Dalam Surah Āli ‘Imrān ayat 145, Allah Taala berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلٰى أَعْقَابِكُمْ ۚ ﴿﴾

“Dan tiadalah Muḥammad itu selain merupakan seorang rasul. Sungguh, telah wafat rasul-rasul sebelumnya. Karenanya, apabila ia meninggal atau terbunuh, akankah kalian memalingkan diri ke belakang?”

Dalam Surah Al-Anbiyā’ ayat 35, Dia berfirman:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُوْنَ ﴿﴾

“Dan tiadalah Kami jadikan seorangpun sebelum engkau untuk tetap hidup. Karenanya, apabila engkau meninggal, akankah mereka tetap hidup?”

Nabi ‘Īsāas sendiri pun menegaskan kematian beliau seperti termaktub dalam Surah Al-Mā’idah ayat 118:

وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي ْكُنتَ أَنتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ ۚ ﴿﴾

“Dahulu, Aku adalah saksi bagi pengikutku selagi Aku berada di tengah-tengah mereka. Namun, setelah Engkau wafatkan diriku, Engkaulah penjaga atas mereka.”

Yakni, selama beliau masih hidup, orang-orang Kristen belumlah sesat dengan menyekutukan beliau sebagai anak Tuhan, bahkan Tuhan itu sendiri. Barulah setelah beliau wafat, orang-orang Kristen menyimpang dari ajaran yang beliau bawa. Berkenaan dengan usia ketika beliau wafat, disebutkan dalam sebuah hadis Ḥaḍrat Fāṭimahra bahwa Nabi Suci MuḥammadSAW bersabda:

وَأَنَّهُ أَخْبَرَنِيْ أَنَّ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَاشَ عِشْرِيْنَ وَمِائَةَ سَنَةٍ.

“Jibrīlas mengabarkan kepadaku bahwa ‘Īsāas hidup selama 120 tahun.”[31]

Masīḥ Mau‘ūd, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas

Dari sini, dapat dimengerti bahwa persona yang akan turun pada akhir zaman bukanlah ‘Īsāas yang dahulu sebab, sebagai orang yang telah mangkat, beliau ditahan oleh Surah Al-Anbiyā’ ayat 96 untuk kembali ke dunia. Lantas, apa maksud dari datangnya ‘Īsāas pada akhir zaman sebagai perwujudan bagi kebangkitan kedua Nabi MuḥammadSAW? Ibnu al-Wardī (w. 749 H) menerangkan bahwa yang dimaksud dengan hal tersebut adalah:

خُرُوْجُ رَجُلٍ يُشَبِّهُ عِيْسٰى فِي الْفَضْلِ وَالشَّرَفِ، كَمَا يُقَالُ لِلرَّجُلِ الْخَيْرِ مَلَكٌ وَلِلشِّرِّيْرِ شَيْطَانٌ، تَشْبِيْهًا بِهِمَا وَلَا يُرَادُ الْأَعْيَانُ.

“Keluarnya seseorang yang menyerupai ‘Īsāas dalam kemuliaan dan kehormatan sebagaimana seorang yang baik hati disebut malaikat dan seorang yang buruk hati disebut setan semata-mata untuk penyerupaan dan tidaklah dimaksud dengannya orang-orang yang berlainan.”[32]

Jadi, ‘Īsāas yang dijanjikan akan datang pada akhir zaman sejatinya merupakan salah seorang dari antara umat Islam yang memiliki keserupaan rohani dengan ‘Īsāas yang dahulu sehingga ia mendapat gelar Almasih. Dalam sebuah hadis riwayat Anasra, dinyatakan bahwa nama lain dari figur ‘Īsā Almasihas yang dijanjikan tersebut adalah Al-Mahdī sebagaimana NabiSAW sabdakan:

وَلَا الْمَهْدِيُّ إِلَّا عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ.

“Tiada ada Al-Mahdī selain ‘Īsā bin Maryamas.”[33]

Atas dasar ini, Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas mendakwahkan diri bahwa beliaulah Almasih dan Al-Mahdī Yang Dijanjikan pada 1891 M atau 1308 H. Beliau bersabda:

وَقَدْ بَيَّنْتُ مِرَارًا، وَأَظْهَرْتُ لِلنَّاسِ إِظْهَارًا، إِنِّيْ أَنَا الْمَسِيْحُ الْمَوْعُوْدُ، وَالْمَهْدِيُّ الْمَعْهُوْدُ، وَكَذٰلِكَ أُمِرْتُ وَمَا كَانَ لِيْ أَنْ أَعْصِيَ أَمْرَ رَبِّيْ وَأَلْحِقَ بِالْمُجْرِمِيْنَ.

“Aku telah jelaskan berkali-kali serta nyatakan dengan senyata-nyatanya bahwa Akulah Almasih dan Al-Mahdī Yang Dijanjikan. Demikianlah apa yang diperintahkan Tuhanku kepadaku. Aku sama sekali tak berhak untuk membangkang perintah Tuhanku lalu bergabung dengan golongan para pendosa.”[34]

Berdasarkan keterangan di atas, tergenapilah sudah kepengutusan Nabi Suci MuḥammadSAW yang kedua kali dalam sosok ‘Īsāas yang dijanjikan, yaitu Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas. Beliaulah yang akan mempersatukan umat Islam pada akhir zaman ini sebagaimana beliau sabdakan:

لِأَجْمَعَ شَمْلَ الْمِلَّةِ الْإِسْلَامِيَّةِ.

“Aku diperintahkan untuk mempersatukan keseluruhan anasir agama Islam.”[35]

Akan tetapi, kemenangan Islam pada akhir zaman ini tidak akan diraih dengan pertempuran dan peperangan. Sebaliknya, kejayaan yang kedua kini akan diperoleh lewat doa dan tanda-tanda samawi. Allah Taala Mahabijaksana dan Dia mengetahui apa yang dibutuhkan dan dihajatkan manusia dari apa yang ia sendiri pikirkan. Taktala melihat bahwa kaum muslimin tidak lagi mempunyai kekuatan duniawi dan bahwa Islam tidak lagi diserang dengan senjata, tetapi dengan berbagai macam tipu daya yang beberkas di hati, Dia pun menghendaki agar kaum muslimin dan agama mereka dimenangkan dengan cara yang sama. Berbicara tentang kenyataan ini, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas bersabda:

فَاعْلَمُوْا أَنَّ الدُّعَاءَ حَرْبَةٌ أُعْطِيَتْ مِنَ السَّمَاءِ لِفَتْحِ هٰذَا الزَّمَانِ، وَلَنْ تَغْلِبُوْا إِلَّا بِٰهذِهِ الْحَرْبَةِ يَا مَعْشَرَ الْخُلَّانِ، وَقَدْ أَخْبَرَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ أَوَّلِهِمْ إِلٰى آخِرِهِم بِهٰذِهِ الْحَرْبَةِ، وَقَالُوْا إِنَّ الْمَسِيْحَ الْمَوْعُوْدَ يَنَالُ الْفَتْحَ باِلدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ فِي الْحَضْرَةِ، لَا بِالْمَلَاحِمِ وَسَفْكِ دِمَاءِ الْأُمَّةِ.

“Ketahuilah! Sesungguhnya, doa adalah senjata yang dikaruniakan dari langit untuk kemenangan zaman ini. Kalian tidak akan menang, kecuali dengan senjata ini, wahai orang-orang yang kusayangi! Sungguh, para nabi dari awal sampai akhir mereka telah mengabarkan tentang senjata ini. Mereka berkata bahwa Masīḥ Mau‘ūd akan meraih kemenangan dengan doa dan perendahan diri di hadirat ilahi, tidak dengan pembantaian dan penumpahan darah umat.”[36]

Kemudian, beliau bersabda:

فَكَذٰلِكَ قُدِّرَ لِآخِرِ الزَّمَانِ أَعْنِيْ زَمَانَ الْمَسِيْحِ الْمَوْعُوْدِ الْمُرْسَلِ مِنَ الرَّحْمَانِ، أَنَّ صَفَّ الْمَصَافِّ يُطْوٰى، وَتُفْتَحُ الْقُلُوْبُ بِالْكَلِمِ وَتُشْرَحُ الصُّدُوْرُ بِالْهُدٰى، أَوَ يُنْقَلُ النَّاسُ إِلَى الْمَقَابِرِ مِنَ الطَّاعُوْنِ أَوْ قَارِعَةٍ أُخْرٰى، وَكَذٰلك اللهُ قَضٰى، لِيَجْعَلَ الْهَزِيْمَةَ عَلَى الْكُفْرِ وَيُعْلِيَ دِيْنًا هُوَ فِي السَّمَاءِ عَلَا.

“Begitulah ditakdirkannya pada akhir zaman, yaitu zaman Masīḥ Mau‘ūd yang diutus dari Tuhan Yang Maha Pemurah bahwa barisan-barisan perang akan dilipat. Kebalikannya, kalbu akan dimenangkan dengan kata-kata dan dada akan dilapangkan dengan petunjuk. Hal ini pun bisa terjadi bahwa manusia akan dimasukkan ke dalam liang kubur karena wabah penyakit atau bencana yang lain. Seperti itulah Allah menghendaki supaya Dia menimpakan kekalahan atas kekafiran dan mengunggulkan agama yang di langit ia telah unggul.”[37]

Dengan demikian, melalui perantaraan beliaulah matahari Islam yang telah tenggelam dan terbenam tadi akan kembali dikokohkan di ufuknya yang tertinggi. Beliau bersabda:

هُوَ الَّذِيْ رَدَّ بِيَ شَمْسَ الْإِسْلَامِ بَعْدَمَا دَنَتْ لِلْغُرُوْبِ، فَكَأَنَّهَا طَلَعَتْ مِنْ مَغْرِبِهَا وَتَجَلَّتْ لِلطَّاِلِبِيْنَ.

“Dialah yang telah mengembalikan melalui diriku matahari Islam setelah sebelumnya ia hampir saja benar-benar terbenam seolah-olah ia terbit kembali dari tempat terbenamnya dan muncul bagi para pencari.”[38]

Sekarang, jika umat Islam ingin bersatu dan mendapatkan kembali kemenangan sebagaimana didapat oleh kaum awwalīn, tidak ada jalan lagi bagi mereka selain dengan bergabung kepada Jamaah kaum ākharīn yang didirikan oleh Almasih dan Al-Mahdī, yaitu Jamaah Muslim Ahmadiyah yang didirikan oleh Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas. Tanpanya, umat Islam tidak akan pernah mampu mencapai kemuliaan yang dijanjikan. Semoga Allah Taala senantiasa menunjuki kita semua kepada jalan kebenaran yang lurus. Āmīn!

[1] Abū al-Ḥasan Al-Wāḥidī, Asbāb Nuzūl al-Qur’ān (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991 M/1411 H), hlm. 192.

[2] Phillip K. Hitti, History of the Arabs (London: Mcmillan Education Ltd, 1970), hh. 104-108.

[3] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 4 (Kairo: Hijr, 1997a M/1417a H), hlm. 165.

[4] Malise Ruthven, Azim Nanji, Historical Atlas of the Islamic World (London: Cartoghrapica Limited, 2004), hh. 25, 27, 29.

[5] Ibnu Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘An Ta’wīl Āy al-Qur’ān, vol. 22 (Kairo: Hijr, 2001 M/1422 H), hlm. 615.

[6] Al-Ḥāfiẓ Ibnu ‘Asākir, Tārīkh Madīnat Dimasyq, vol. 47 (Beirut: Dār al-Fikr, 1997 M/1417 H), hlm. 521.

[7] Syarḥ Musykil al-Ātsār Li Abī Ja‘far Aṭ-Ṭaḥāwī, no. 2473.

[8] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ar-Riqāq, Bāb Mā Yuḥdzaru Min Zahrat ad-Dunyā Wa at-Tanāfus Fīhā, no. 6428.

[9] Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, vol. 7 (Kairo: Dār ar-Rayyān Li at-Turāts, 1986 M/1407 H), hlm. 8.

[10] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Fitan, Bāb al-Fitnah al-Latī Tamūju Ka Mauj al-Baḥr, no. 7096.

[11]Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 10 (Kairo: Hijr, 1997b M/1417b H), hlm. 190.

[12]Allāmah Ibnu Katsīr, op. cit., (1997 Mb/1417b H), hlm. 190.

[13] Ibid, hlm. 455.

[14] Ibid, hlm. 512.

[15] Ibid, hlm. 585.

[16] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 11 (Kairo: Hijr, 1997c M/1417c H), hlm. 22.

[17] Sunan at-Tirmidzī, Kitāb al-Fitan, Bāb Mā Jā’a Fī al-Khilāfah, no. 2226.

[18] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, op. cit., (1997 Mc/1417c H), hlm. 551.

[19] Ibid, hlm. 624.

[20]Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 12 (Kairo: Hijr, 1997d M/1417d H), hlm. 177.

[21] Syams-ud-Dīn Adz-Dzahabī, Tadzkirat al-Ḥuffāẓ, vol. 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1374 H), hlm. 244.

[22] John Tholan, Gilles Veinstein, Henry Laurens, Europe and the Islamic World: A History (New Jersey: Princeton University Press), hlm. 31.

[23] Idris El Hareir, El Hadji Ravane M’baye (eds), The Different Aspects of Islamic Culture, vol. 3: The Spread of Islam throughout the World (Paris: UNESCO), hlm. 436.

[24] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 16 (Kairo: Hijr, 1997e M/1417e H), hlm. 142.

[25] Ibid, hlm. 164.

[26] Ibid, hlm. 166.

[27] Ibid, hlm. 585.

[28] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyahvol. 17 (Kairo: Hijr, 1997f M/1417f H), hh. 356-368.

[29] John Capper, Delhi: The Capital of India (New Delhi: Asian Educational Services, 1997), hlm. 30.

[30] Ugur Ümit Üngör, The Making of Modern Turkey: Nation and State in Eastern Anatolia, 1913-1950 (Oxford: Oxford University Press, 2011), hlm. 174.

[31] Al-Mu‘jam al-Kabīr, Fī Mā Rawat Umm-ul-Mu’minīn ‘Ā’isyah ‘An Fāṭimah raḍiyallāhu ‘anhumā, no. 1301.

[32] Ibnu al-Wardī, Kharīdat al-‘Ajā’ib Wa Farīdat al-Gharā’ib (Kairo: Maktabat ats-Tsaqāfah ad-Dīniyyah, 2007), hlm. 442.

[33] Sunan Ibni Mājah, Kitāb al-Fitan, Bāb Syiddat az-Zamān, no. 4039.

[34] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, I‘jāz al-Masīḥ (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2011), hlm. 9.

[35] Ibid.

[36] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Tadzkirat asy-Syahādatain dalam Rūḥānī Khazā’in, vol. 20 (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2009), hlm. 82.

[37] Ibid.

[38] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Al-Khuṭbah al-Ilhāmiyyah (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2009), hlm. 68.