Jumat, 17 Maret 2017

Evolusi Kerohanian Nabi Suci Muḥammad (SAW)

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Evolusi Kerohanian Nabi Suci MuḥammadSAW

Road to the Hills, by Ann Burnham

Dalam sejarah Islam, kita membaca bahwa ada beberapa ulama, khususnya dari kalangan sufi, yang mengutarakan konsepsi tentang ‘ālam ṣaghīr (mikrokosmos) serta ‘ālam kabīr (makrokosmos). Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmad Qādiānīas, pun turut memberikan penerangan mengenai hal tersebut sembari menjelaskan soal taraqqiyyāt (evolusi) kerohanian Nabi SuciSAW. Dalam Al-Khuṭbah al-Ilhāmiyyah, beliau mengungkapkan:


“Sesungguhnya zaman kerohanian Nabi kitaSAW dimulai dari ribuan kelima dan sempurna pada akhir ribuan keenam. Ke arah inilah Allah Taala mengisyaratkan dalam ayat:

لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ ﴿﴾

Perinciannya adalah bahwa Nabi kitaSAW datang di atas jejak Ādamas dan bahwa Ādamas mulai diciptakan pada hari keenam, yakni segala bagian huwiyyah (identitas) dan hakikat māhiyyah (esensi)-nya.

Sebab, bumi dengan segala makhluk hidup di permukaannya dan langit dengan segala benda yang beredar di atasnya merupakan hakikat huwiyyah Ādamas seolah-olah tubuh kebendaannya berpindah dari hakikat jamādiyyah (kebendamatian) kepada hakikat nabātiyyah (ketetumbuhan) lalu dari hakikat nabātiyyah kepada huwiyyah yang sifatnya aiwāniyyah (kebinatangan). Kemudian, ia berpindah menurut sisi rohani dari kesempurnaan kaukabiyyah (kebintangan) kepada kesempurnaan qamariyyah (kebulanan) lalu dari cahaya qamariyyah kepada kemilau syamsiyyah (kemataharian). Semua perpindahan ini merupakan manifestasi perkembangan alam sampai tingkatan hakikat insāniyyah (kemanusiaan) seolah-olah manusia pada suatu waktu adalah benda mati, pada waktu lain tumbuhan, berikutnya adalah hewan, seterusnya bintang, bulan, dan matahari sampai akhirnya semua tuntutan fitrahnya berupa kekuatan-kekuatan langit dan bumi dikumpulkan pada hari kelima atas karunia Allah, Sebaik-baik Pencipta.

Dengan begitu, semua ciptaan adalah suatu entitas sempurna bagi Ādamas atau cermin bagi wujudnya yang diagungkan dan Allah dimuliakan-Nya. Kemudian, Allah berkehendak menampakkan perkara-perkara yang tersembunyi ini secara sempurna dalam diri seseorang yang menjadi manifestasi sempurna semua atribut ini. Menampaklah, lantas, kerohanian Ādamas dengan penampakkan yang menyeluruh dan sempurna pada saat terakhir di hari Jumat, yakni di hari keenam pada jam keenam.

Demikian pula, kerohanian NabiSAW terbit pada ribuan kelima dengan garis besar sifat-sifatnya. Akan tetapi, zaman itu bukanlah akhir dari perkembangannya. Sebaliknya, itu adalah fondasi bagi tingkatan-tingkatan kemuliaannya. Kemudian, sempurna dan menampaklah ia pada akhir ribuaan keenam, yakni pada saat ini, seperti halnya Ādamas diciptakan pada hari keenam dengan seizin Allah, Sebaik-baik Pencipta. Kerohanian NabiSAW pun mengambil suatu manifestasi dari umat beliau guna mencapai kesempurnaan muncul dan merajalelanya cahaya beliau sebagaimana telah dijanjikan oleh Allah dalam Kitab-Nya Yang Terang.

Akulah manifestasi dan cahaya yang telah dijanjikan itu! Oleh sebab itu, berimanlah dan janganlah menggabungkan diri dengan orang-orang yang ingkar! Bila engkau ingin, bacalah ayat:

هُوَ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ ﴿﴾

Lantas, berpikirlah seperti orang-orang yang mendapatkan petunjuk! Sekarang inilah waktu penampakan dan waktu sempurnanya kebermunculan kerohanian NabiSAW dari Tuhan Yang Mahaperkasa, wahai kaum muslimin! Maka dari itu, terdapat dalam hadis bahwa beliau diutus pada akhir ribuan keenam padahal beliau diutus pada ribuan keenam dengan pasti dan meyakinkan. Jadi, tidak diragukan bahwa ini merupakan isyarat ke arah waktu penampakan yang paripurna, penggenapan tujuan, sempurnanya kebermunculan kerohanian, serta hari-hari bergelombangnya pancaran-pancaran Muḥammadiyyat di seantero alam semesta. Itulah akhir ribuan keenam yang telah ditetapkan menjadi zaman turunnya Masīḥ Mau‘ūd sebagaimana dipahami dari kitab-kitab para nabi. Sungguh, zaman ini merupakan zaman penampakan kaki beliau dari Hadirat Yang Mahaesa sebagaimana dipahami dari ayat:

وَآخَرِيْنَ مِنْهُمْ ﴿﴾

serta ayat-ayat lainnya dari lembaran-lembaran Kitab Suci. Berpikirlah, lantas, jika engkau memang berakal!”

Dari sabda beliau ini, kita bisa mereguk piala-piala makrifat ilahi yang begitu murni dan begitu banyak. Semoga Allah Taala senantiasa mencahayai kita dengan cahaya-Nya yang tidak pernah padam! Āmīn!

Sumber; Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Al-Khuṭbah al-Ilhāmiyyah (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2009), hh. 70-71.

Jumat, 24 Februari 2017

Pesan Ahmadiyah

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Pesan Ahmadiyah

Versi ringkas dari tulisan ini telah dicetak dalam bentuk brosur dengan judul yang sama sebanyak 1.000 ekslempar

Dua Karakteristik Nabi MuḥammadSAW

Nabi kita, Muḥammad MuṣṭafāSAW, adalah Khātam-un-Nabiyyīn, yakni nabi yang paling mulia. Sebagai utusan Tuhan yang terbaik, beliau dianugerahi dengan ajaran yang kāmil (sempurna) dan syāmil (menyeluruh). Hal ini digambarkan dalam ayat keempat Surah Al-Mā’idah yang berbunyi:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِيْنًا ۚ ﴿﴾

“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian teruntuk kalian, telah Kuparipurnakan juga nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Kuridai pula Islam sebagai agama kalian.”

Dalam catatan sejarah, ayat ini turun sehabis Asar pada Jumat, 10 Zulhijah 10 H, saat Nabi SuciSAW sedang berwukuf di atas unta beliau, al-‘Aḍbā’, dalam rangkaian manasik haji wadak[1].

Jadi, pada hari Arafah tahun kesepuluh setelah hijrah, syariat Islam dengan kesempurnaannya resmi menjadi segel yang menasakh syariat-syariat masa lampau yang masih bercacat. Sampai hari kiamat, hanya syariat Islamlah yang akan langgeng dan berlaku.

Menariknya, selaku Khātam-un-Nabiyyīn, Nabi kitaSAW tidak hanya dikaruniai ajaran yang sempurna, tetapi juga diberi-Nya kerasulan universal yang dengannya ajaran yang kāmil dan syāmil tadi dapat menjangkau semua bangsa dan semua tempat di seantero dunia. Dalam Surah Al-A‘rāf ayat 159, beliau diperintah:

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعًا الَّذِيْ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ﴿﴾

“Katakanlah: Wahai manusia! Sesungguhnya, Aku adalah rasul Allah, yang kepunyaan-Nya sajalah kerajaan langit dan bumi, untuk kalian semuanya.”

Dengan demikian, penasakhan Islam terhadap agama-agama terdahulu dan kemenangannya atas mereka bisa terlaksana. Allah Taala berfirman dalam Surah Aṣ-Ṣaff ayat 10:

هُوَ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ﴿﴾

“Dialah yang telah mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan agama kebenaran supaya ia memenangkannya atas semua agama kendati orang-orang musyrik tidak menyukainya.”

Kedatangan ‘Īsāas

Namun, berbeda dengan ayat kesempurnaan Islam di atas, ayat penyebaran agama ilahi ini belumlah tergenapi secara utuh pada masa hidup Nabi SuciSAW. Memang, pada masa hidup beliau, Islam telah mengalami keunggulan. Hanya saja, keunggulan tersebut baru berlaku setidaknya atas lima agama saja yang secara langsung bersinggungan dengannya, yaitu agama pagan, Yahudi, Kristen, Majusi, serta kaum Sabean[2]. Dakwah Islam pun pada waktu itu, selain di daerah Abbesinia[3], belum lagi menembus tapal-tapal batas negeri-negeri Arab. Praktis, kala NabiSAW wafat pada Rabiulawal 10 H atau 632 M, pemerintahan dan kekuasaan Islam baru membentangi jazirah Arab bagian barat-tengah. Semenanjung Arabia sendiri baru ditaklukkan secara menyeluruh selama dua tahun kemudian pada era kekhalifahan Ḥaḍrat Abū Bakrra, sedangkan Romawi dan sebagian besar Persia ditundukkan di bawah administrasi Khalifah ‘Umarra. Sementara itu, sisa-sisa wilayah Dinasti Sassania berupa Armenia, Azerbaijan, dan Khurasan jatuh ke tangan kaum muslimin sewaktu Ḥaḍrat ‘Utsmanra menjadi khalifah[4].

Lantas, kapankah penggenapan ayat kesepuluh dari Surah Aṣ-Ṣaff itu akan terjadi? Para ulama salaf sepakat bahwa penggenapannya akan terjadi pada masa keluarnya ‘Īsāas. Ibnu Jarīr Aṭ-Ṭabarī (w. 310 H), setelah mengumpulkan riwayat-riwayat dari para Sahabatra, tabiin, dan para pendahulu Islam yang salih, menyimpulkan bahwa ayat tersebut akan tergenapi saat:

خُرُوْجُ عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ.

“Keluarnya ‘Īsā bin Maryamas.”[5]

Dengan begitu, ayat kepengutusan Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bagi seluruh umat manusia dan penyebaran agama yang beliau bawa ke seluruh pelosok dunia akan terejawantahkan dalam sosok ‘Īsāas yang akan datang. Dengan kata lain, ‘Īsāas yang akan datang adalah perwujudan kebangkitan kedua Nabi MuḥammadSAW di tengah-tengah kaum ākharīn setelah sebelumnya beliau muncul di antara kaum ummiyyīn sebagaimana tertera dalam Surah Al-Jumu‘ah ayat 3 dan 4. Oleh sebab itu, beliau diriwayatkan ‘Abdullāh bin ‘Amrūra pernah bersabda:

كَيْفَ تَهْلِكُ أُمَّةٌ أَنَا أَوَّلَهَا وَعِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ آخِرَهَا.

“Bagaimana mungkin suatu umat yang Aku berada pada awalnya dan ‘Īsā bin Maryamas berada pada akhirnya akan binasa?”[6]

Masa Kegelapan

Kendati demikian, Nabi Suci MuḥammadSAW juga memperingatkan bahwa masa antara beliau dan ‘Īsāas yang dijanjikan akan dipenuhi dengan kebatilan. ‘Abdullāh bin As-Sa‘dīra menarasikan bahwa NabiSAW bersabda:

إِنَّ خِيَارَ أُمَّتِيْ أَوَّلُهَا وَآخِرُهَا، وَبَيْنَ ذَلِكَ ثَبَجٌ أَعْوَجُ، لَيْسُوْا مِنْ أُمَّتِيْ وَلَسْتُ مِنْهُمْ.

“Sesungguhnya, orang-orang terbaik dari umatku adalah golongan awalnya dan golongan akhirnya. Di antara kedua terdapat kelompok masa pertengahan yang menyimpang. Tidaklah mereka berasal dari umatku dan Aku pun tidak berasal dari mereka.”[7]

Golongan pertama yang dimaksud dalam hadis di atas adalah orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama Islam. Kemudian, akan muncul kelompok pertengahan yang menyimpang hingga Allah Taala membangkitkan ‘Īsāas yang dijanjikan. ‘Imrān bin Ḥuṣainra merawikan bahwa Ḥaḍrat RasūlullāhSAW pernah bersabda:

خَيْرُكُمْ قَرْنِيْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُم، ثُمَّ يَكُوْنُ بَعْدَهُمْ قَوْمٌ يَشْهَدُوْنَ وَلَا يُسْتَشْهَدُوْنَ، وَيَخُوْنُوْنَ وَلَا يُؤْتَمَنُوْنَ، وَيَنْذُرُوْنَ وَلَا يَفُوْنَ، وَيَظْهَرُ فِيْهِمُ السِّمَنُ.

“Sebaik-baik kalian adalah mereka yang hidup pada abadku, kemudian mereka yang datang berikutnya, dan kemudian mereka yang datang berikutnya. Setelah itu, akan muncul orang-orang yang memberi kesaksian tanpa diminta, berkhianat lagi tak dapat dipercaya, bernazar tanpa memenuhinya, serta tampak pada diri mereka kegemukan.”[8]

Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī (w. 852 H), mengenai makna hadis di atas, menjelaskan:

وَهٰذَا مَحْمُوْلٌ عَلَى الْغَالِبِ وَالْأَكْثَرِيَّةِ، فَقَدْ وُجِدَ فِيْمَنْ بَعْدَ الصَّحَابَةِ مِنَ الْقَرْنَيْنِ مَنْ وُجِدَتْ فِيْهِ الصِّفَاتُ الْمَذْكُوْرَةُ الْمَذْمُوْمَةُ، لٰكِنْ بِقِلَّةٍ، بِخِلَافِ مَنْ بَعْدَ الْقُرُوْنِ الثَّلَاثَةِ فَإِنَّ ذٰلِكَ كَثُرَ فِيْهِمْ وَاشْتَهَرَ.

“Hadis ini dimaksudkan untuk golongan mayoritasnya. Sifat-sifat tercela itu sebenarnya sudah dijumpai dalam diri orang-orang pada dua kurun pertama sesudah para Sahabatra, tetapi dalam hitungan yang sedikit. Berbeda dengan mereka, sifat-sifat tersebut dijumpai dalam diri orang-orang yang hidup sesudah abad ketika dalam bilangan yang banyak dan tersebar.”[9]

Memang, sejak abad pertama pun, tepatnya sejak dibunuhnya Khalifah ‘Umarra yang digelari sebagai pintu fitnah[10] pada Zulhijah 23 H[11], kekacauan dan konflik internal telah menimpa sendi-sendi persatuan umat Islam. Pensyahidan Khalifah ‘Utsmānra pada Zulhijah 35 H[12], Perang Jamal pada Rabiulakhir 36 H[13], Perang Ṣiffīn yang berlangsung selama berbulan-bulan pada 37 H[14], Perang Nahrawān masih pada tahun yang sama[15], serta disyahidkannya Khalifah ‘Alīra  pada bulan Ramadan 40 H[16] yang menandakan berakhirnya 30 tahun silsilah Khulafā’-ur-Rāsyidīn sebagaimana dinubuatkan dalam hadis Safīnahra[17] adalah segelintir dari peristiwa-peristiwa besar yang merusak persatuan kaum muslimin pada zaman awal. Setelahnya, pembunuhan Imam Ḥusainra pada Muharam 61 H[18], Tragedi Ḥarrah pada Zulhijah 63 H[19] serta pembunuhan ‘Abdullāh bin Zubairra pada Jumadilula 73 H[20] juga merupakan kejadian-kejadian yang patut diketengahkan.

Namun, mayoritas kaum muslimin selama tiga kurun pertama belumlah rusak sebab mereka masih memiliki kesadaran yang tinggi sebagai satu-kesatuan umat kala dihadapkan dengan musuh. Adz-Dzahabī (w. 784 H) melukiskan kenyataan itu dengan mengatakan:

اَلْقَوَّالُوْنَ بِالْحَقِّ كَثِيْرٌ، وَالْعِبَادُ مُتَوَافِرُوْنَ، وَالنَّاسُ فِيْ بُلَهْنِيَةٍ مِنَ الْعَيْشِ بِالْأَمْنِ، وَكَثْرَةُ الْجٌيُوْشِ الْمُحَمَّدِيَّةِ مِنْ أَقْصَى الْمَغْرِبِ وَجَزِيْرَةِ الْأَنْدَلُسِ وَإِلٰى قَرَيْبِ مَمْلَكَةِ الْخَطَا وَبَعْضِ الْهِنْدِ وِإِلَى الْحَبْشَةِ.

“Para pemerkata kebenaran berjumlah banyak, para ahli ibadah berlimpah-ruah, dan orang-orang pun merasakan kelapangan hidup dengan aman. Tentara-tentara MuḥammadSAW dalam jumlah besar terbentang dari ujung Maghrib dan Jazirah Andalus sampai Afghanistan dan dari sebagian India sampai Etiopia”[21]

Barulah setelah lewat 300 tahun dari kebangkitan pertama Nabi SuciSAW, golongan mayoritas dalam umat mulai memburuk dengan dimasukkanya kekuatan-kekuatan Kristen dalam perpolitikan kaum muslimin. Hal ini diawali dengan persekongkolan Dinasti ‘Abbāsiyyah di Irak dengan Dinasti Carolongian di Prancis melalui pertukaran duta besar dan hadiah selama penghujung abad kedua Hijriah, terutama pada era Ar-Rasyīd dan Al-Ma’mūn, guna melawan Dinasti ‘Umayyah di Andalusia[22] yang dibalas oleh Dinasti ‘Umayyah lewat persekutuan dengan Dinasti Byzantium di Turki semasa ‘Abd-ur-Raḥmān Al-Ausaṭ pada permulaan abad ketiga Hijriah[23].

Alih-alih berhenti, percekcokan internal tersebut justru semakin meruncing dari tahun ke tahun. Pada 487 H, haji sempat tidak dilaksanakan karena para sultan dari kerajaan-kerajaan Islam saling bertentangan[24]. Akibatnya, wibawa dan muruah Islam melemah di mata para musuh. Terbukti, empat tahun kemudian, persisnya Jumadilula 490 H, pasukan salib berhasil menaklukkan Antiokia untuk pertama kalinya[25]. Akhirnya, Yerusalem pun mereka kuasai dengan kekuatan satu juta tentara seraya membunuhi 70.000 orang-orang Islam[26]. Meskipun Saladin berhasil merebut kembali Baitulmakdis selepas Perang Ḥiṭṭīn pada Rajab 583 H[27], lemahnya keadaan kaum muslimin tidak pernah bisa diperbaiki lagi. Tidak sampai seabad sesudahnya, Dinasti ‘Abbāsiyah runtuh dengan dibumihanguskannya Baghdad oleh 200.000 prajurit Mongol di bawah komando Hulāgu Khān pada Muḥarram 656 H yang menelan korban sebanyak 800.000-2.000.000 jiwa. Khalifah Al-Musta‘ṣim sendiri terbunuh pada 14 Ṣafar 656 H dan kuburannya disembunyikan. Bau bangkai yang dihasilkan dari tumpukan mayat ini mewabah pada tahun yang sama hingga ke Syiria[28].

Masa Kebangkitan

Sejak saat itu, kelemahan kaum muslimin kian menjadi-jadi. Dalam Surah As-Sajdah ayat 6, Allah Taala menggambarkan bahwa zaman kemunduran Islam tersebut akan berlangsung seribu tahun sebagaimana difirmankan-Nya:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّوْنَ ﴿﴾

“Dia mengatur urusan ini dari langit ke bumi lalu kembali kepada-Nya pada satu hari yang kadarnya sama dengan seribu tahun dari apa yang kalian hitung.”

Artinya, bila ditambahkan seribu tahun setelah 300 tahun era keemasan Islam, jumlah yang akan didapat adalah 1300 tahun. Dengan kata lain, akhir abad ke-13 Hijriah merupakan kulminasi dari dekadensi kaum muslimin seolah-olah matahari Islam telah tenggelam di ufuk barat. Hal ini terejawantahkan dengan runtuhnya Dinasti Mughāl di India runtuh setelah Delhi bertekuk lutut terhadap kekuasaan Inggris pada 21 Mei 1857 M atau 1274 H[29]. Sementara itu, Dinasti ‘Utsmāniyyah di Turki jatuh pada 3 Maret 1924 yang bertepatan dengan 1342 H[30].

Oleh sebab itu, merupakan suatu keharusan bahwa awal abad ke-14 Hijriah menjadi waktu diutusnya Nabi Suci MuḥammadSAW untuk yang kedua kalinya melalui kedatangan ‘Īsāas yang dijanjikan sehingga kebangkitan Islam pada akhir zaman dapat terlaksana seperti pada awal zaman dan matahari Islam yang telah terbenam tadi dapat diterbitkan kembali. Akan tetapi, pertanyaannya, mengapakah hingga kini ‘Īsāas yang dijanjikan itu tidak kunjung datang?

‘Īsāas Yang Dahulu Sudah Wafat

Jawabannya adalah bahwa sebagian besar orang selama ini telah keliru menganggap Nabi ‘Īsāas masih hidup di langit. Padahal, menurut Alquranul Karim, semua nabi sebelum Nabi MuḥammadSAW sudah wafat. Dalam Surah Āli ‘Imrān ayat 145, Allah Taala berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلٰى أَعْقَابِكُمْ ۚ ﴿﴾

“Dan tiadalah Muḥammad itu selain merupakan seorang rasul. Sungguh, telah wafat rasul-rasul sebelumnya. Karenanya, apabila ia meninggal atau terbunuh, akankah kalian memalingkan diri ke belakang?”

Dalam Surah Al-Anbiyā’ ayat 35, Dia berfirman:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُوْنَ ﴿﴾

“Dan tiadalah Kami jadikan seorangpun sebelum engkau untuk tetap hidup. Karenanya, apabila engkau meninggal, akankah mereka tetap hidup?”

Nabi ‘Īsāas sendiri pun menegaskan kematian beliau seperti termaktub dalam Surah Al-Mā’idah ayat 118:

وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًا مَّا دُمْتُ فِيْهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي ْكُنتَ أَنتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ ۚ ﴿﴾

“Dahulu, Aku adalah saksi bagi pengikutku selagi Aku berada di tengah-tengah mereka. Namun, setelah Engkau wafatkan diriku, Engkaulah penjaga atas mereka.”

Yakni, selama beliau masih hidup, orang-orang Kristen belumlah sesat dengan menyekutukan beliau sebagai anak Tuhan, bahkan Tuhan itu sendiri. Barulah setelah beliau wafat, orang-orang Kristen menyimpang dari ajaran yang beliau bawa. Berkenaan dengan usia ketika beliau wafat, disebutkan dalam sebuah hadis Ḥaḍrat Fāṭimahra bahwa Nabi Suci MuḥammadSAW bersabda:

وَأَنَّهُ أَخْبَرَنِيْ أَنَّ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَاشَ عِشْرِيْنَ وَمِائَةَ سَنَةٍ.

“Jibrīlas mengabarkan kepadaku bahwa ‘Īsāas hidup selama 120 tahun.”[31]

Masīḥ Mau‘ūd, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas

Dari sini, dapat dimengerti bahwa persona yang akan turun pada akhir zaman bukanlah ‘Īsāas yang dahulu sebab, sebagai orang yang telah mangkat, beliau ditahan oleh Surah Al-Anbiyā’ ayat 96 untuk kembali ke dunia. Lantas, apa maksud dari datangnya ‘Īsāas pada akhir zaman sebagai perwujudan bagi kebangkitan kedua Nabi MuḥammadSAW? Ibnu al-Wardī (w. 749 H) menerangkan bahwa yang dimaksud dengan hal tersebut adalah:

خُرُوْجُ رَجُلٍ يُشَبِّهُ عِيْسٰى فِي الْفَضْلِ وَالشَّرَفِ، كَمَا يُقَالُ لِلرَّجُلِ الْخَيْرِ مَلَكٌ وَلِلشِّرِّيْرِ شَيْطَانٌ، تَشْبِيْهًا بِهِمَا وَلَا يُرَادُ الْأَعْيَانُ.

“Keluarnya seseorang yang menyerupai ‘Īsāas dalam kemuliaan dan kehormatan sebagaimana seorang yang baik hati disebut malaikat dan seorang yang buruk hati disebut setan semata-mata untuk penyerupaan dan tidaklah dimaksud dengannya orang-orang yang berlainan.”[32]

Jadi, ‘Īsāas yang dijanjikan akan datang pada akhir zaman sejatinya merupakan salah seorang dari antara umat Islam yang memiliki keserupaan rohani dengan ‘Īsāas yang dahulu sehingga ia mendapat gelar Almasih. Dalam sebuah hadis riwayat Anasra, dinyatakan bahwa nama lain dari figur ‘Īsā Almasihas yang dijanjikan tersebut adalah Al-Mahdī sebagaimana NabiSAW sabdakan:

وَلَا الْمَهْدِيُّ إِلَّا عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ.

“Tiada ada Al-Mahdī selain ‘Īsā bin Maryamas.”[33]

Atas dasar ini, Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas mendakwahkan diri bahwa beliaulah Almasih dan Al-Mahdī Yang Dijanjikan pada 1891 M atau 1308 H. Beliau bersabda:

وَقَدْ بَيَّنْتُ مِرَارًا، وَأَظْهَرْتُ لِلنَّاسِ إِظْهَارًا، إِنِّيْ أَنَا الْمَسِيْحُ الْمَوْعُوْدُ، وَالْمَهْدِيُّ الْمَعْهُوْدُ، وَكَذٰلِكَ أُمِرْتُ وَمَا كَانَ لِيْ أَنْ أَعْصِيَ أَمْرَ رَبِّيْ وَأَلْحِقَ بِالْمُجْرِمِيْنَ.

“Aku telah jelaskan berkali-kali serta nyatakan dengan senyata-nyatanya bahwa Akulah Almasih dan Al-Mahdī Yang Dijanjikan. Demikianlah apa yang diperintahkan Tuhanku kepadaku. Aku sama sekali tak berhak untuk membangkang perintah Tuhanku lalu bergabung dengan golongan para pendosa.”[34]

Berdasarkan keterangan di atas, tergenapilah sudah kepengutusan Nabi Suci MuḥammadSAW yang kedua kali dalam sosok ‘Īsāas yang dijanjikan, yaitu Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas. Beliaulah yang akan mempersatukan umat Islam pada akhir zaman ini sebagaimana beliau sabdakan:

لِأَجْمَعَ شَمْلَ الْمِلَّةِ الْإِسْلَامِيَّةِ.

“Aku diperintahkan untuk mempersatukan keseluruhan anasir agama Islam.”[35]

Akan tetapi, kemenangan Islam pada akhir zaman ini tidak akan diraih dengan pertempuran dan peperangan. Sebaliknya, kejayaan yang kedua kini akan diperoleh lewat doa dan tanda-tanda samawi. Allah Taala Mahabijaksana dan Dia mengetahui apa yang dibutuhkan dan dihajatkan manusia dari apa yang ia sendiri pikirkan. Taktala melihat bahwa kaum muslimin tidak lagi mempunyai kekuatan duniawi dan bahwa Islam tidak lagi diserang dengan senjata, tetapi dengan berbagai macam tipu daya yang beberkas di hati, Dia pun menghendaki agar kaum muslimin dan agama mereka dimenangkan dengan cara yang sama. Berbicara tentang kenyataan ini, Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas bersabda:

فَاعْلَمُوْا أَنَّ الدُّعَاءَ حَرْبَةٌ أُعْطِيَتْ مِنَ السَّمَاءِ لِفَتْحِ هٰذَا الزَّمَانِ، وَلَنْ تَغْلِبُوْا إِلَّا بِٰهذِهِ الْحَرْبَةِ يَا مَعْشَرَ الْخُلَّانِ، وَقَدْ أَخْبَرَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ أَوَّلِهِمْ إِلٰى آخِرِهِم بِهٰذِهِ الْحَرْبَةِ، وَقَالُوْا إِنَّ الْمَسِيْحَ الْمَوْعُوْدَ يَنَالُ الْفَتْحَ باِلدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ فِي الْحَضْرَةِ، لَا بِالْمَلَاحِمِ وَسَفْكِ دِمَاءِ الْأُمَّةِ.

“Ketahuilah! Sesungguhnya, doa adalah senjata yang dikaruniakan dari langit untuk kemenangan zaman ini. Kalian tidak akan menang, kecuali dengan senjata ini, wahai orang-orang yang kusayangi! Sungguh, para nabi dari awal sampai akhir mereka telah mengabarkan tentang senjata ini. Mereka berkata bahwa Masīḥ Mau‘ūd akan meraih kemenangan dengan doa dan perendahan diri di hadirat ilahi, tidak dengan pembantaian dan penumpahan darah umat.”[36]

Kemudian, beliau bersabda:

فَكَذٰلِكَ قُدِّرَ لِآخِرِ الزَّمَانِ أَعْنِيْ زَمَانَ الْمَسِيْحِ الْمَوْعُوْدِ الْمُرْسَلِ مِنَ الرَّحْمَانِ، أَنَّ صَفَّ الْمَصَافِّ يُطْوٰى، وَتُفْتَحُ الْقُلُوْبُ بِالْكَلِمِ وَتُشْرَحُ الصُّدُوْرُ بِالْهُدٰى، أَوَ يُنْقَلُ النَّاسُ إِلَى الْمَقَابِرِ مِنَ الطَّاعُوْنِ أَوْ قَارِعَةٍ أُخْرٰى، وَكَذٰلك اللهُ قَضٰى، لِيَجْعَلَ الْهَزِيْمَةَ عَلَى الْكُفْرِ وَيُعْلِيَ دِيْنًا هُوَ فِي السَّمَاءِ عَلَا.

“Begitulah ditakdirkannya pada akhir zaman, yaitu zaman Masīḥ Mau‘ūd yang diutus dari Tuhan Yang Maha Pemurah bahwa barisan-barisan perang akan dilipat. Kebalikannya, kalbu akan dimenangkan dengan kata-kata dan dada akan dilapangkan dengan petunjuk. Hal ini pun bisa terjadi bahwa manusia akan dimasukkan ke dalam liang kubur karena wabah penyakit atau bencana yang lain. Seperti itulah Allah menghendaki supaya Dia menimpakan kekalahan atas kekafiran dan mengunggulkan agama yang di langit ia telah unggul.”[37]

Dengan demikian, melalui perantaraan beliaulah matahari Islam yang telah tenggelam dan terbenam tadi akan kembali dikokohkan di ufuknya yang tertinggi. Beliau bersabda:

هُوَ الَّذِيْ رَدَّ بِيَ شَمْسَ الْإِسْلَامِ بَعْدَمَا دَنَتْ لِلْغُرُوْبِ، فَكَأَنَّهَا طَلَعَتْ مِنْ مَغْرِبِهَا وَتَجَلَّتْ لِلطَّاِلِبِيْنَ.

“Dialah yang telah mengembalikan melalui diriku matahari Islam setelah sebelumnya ia hampir saja benar-benar terbenam seolah-olah ia terbit kembali dari tempat terbenamnya dan muncul bagi para pencari.”[38]

Sekarang, jika umat Islam ingin bersatu dan mendapatkan kembali kemenangan sebagaimana didapat oleh kaum awwalīn, tidak ada jalan lagi bagi mereka selain dengan bergabung kepada Jamaah kaum ākharīn yang didirikan oleh Almasih dan Al-Mahdī, yaitu Jamaah Muslim Ahmadiyah yang didirikan oleh Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas. Tanpanya, umat Islam tidak akan pernah mampu mencapai kemuliaan yang dijanjikan. Semoga Allah Taala senantiasa menunjuki kita semua kepada jalan kebenaran yang lurus. Āmīn!

[1] Abū al-Ḥasan Al-Wāḥidī, Asbāb Nuzūl al-Qur’ān (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991 M/1411 H), hlm. 192.

[2] Phillip K. Hitti, History of the Arabs (London: Mcmillan Education Ltd, 1970), hh. 104-108.

[3] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 4 (Kairo: Hijr, 1997a M/1417a H), hlm. 165.

[4] Malise Ruthven, Azim Nanji, Historical Atlas of the Islamic World (London: Cartoghrapica Limited, 2004), hh. 25, 27, 29.

[5] Ibnu Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘An Ta’wīl Āy al-Qur’ān, vol. 22 (Kairo: Hijr, 2001 M/1422 H), hlm. 615.

[6] Al-Ḥāfiẓ Ibnu ‘Asākir, Tārīkh Madīnat Dimasyq, vol. 47 (Beirut: Dār al-Fikr, 1997 M/1417 H), hlm. 522.

[7] Syarḥ Musykil al-Ātsār Li Abī Ja‘far Aṭ-Ṭaḥāwī, no. 2473.

[8] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ar-Riqāq, Bāb Mā Yuḥdzaru Min Zahrat ad-Dunyā Wa at-Tanāfus Fīhā, no. 6428.

[9] Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, vol. 7 (Kairo: Dār ar-Rayyān Li at-Turāts, 1986 M/1407 H), hlm. 8.

[10] Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Fitan, Bāb al-Fitnah al-Latī Tamūju Ka Mauj al-Baḥr, no. 7096.

[11]Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 10 (Kairo: Hijr, 1997b M/1417b H), hlm. 190.

[12]Allāmah Ibnu Katsīr, op. cit., (1997 Mb/1417b H), hlm. 190.

[13] Ibid, hlm. 455.

[14] Ibid, hlm. 512.

[15] Ibid, hlm. 585.

[16] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 11 (Kairo: Hijr, 1997c M/1417c H), hlm. 22.

[17] Sunan at-Tirmidzī, Kitāb al-Fitan, Bāb Mā Jā’a Fī al-Khilāfah, no. 2226.

[18] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, op. cit., (1997 Mc/1417c H), hlm. 551.

[19] Ibid, hlm. 624.

[20]Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 12 (Kairo: Hijr, 1997d M/1417d H), hlm. 177.

[21] Syams-ud-Dīn Adz-Dzahabī, Tadzkirat al-Ḥuffāẓ, vol. 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1374 H), hlm. 244.

[22] John Tholan, Gilles Veinstein, Henry Laurens, Europe and the Islamic World: A History (New Jersey: Princeton University Press), hlm. 31.

[23] Idris El Hareir, El Hadji Ravane M’baye (eds), The Different Aspects of Islamic Culture, vol. 3: The Spread of Islam throughout the World (Paris: UNESCO), hlm. 436.

[24] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyah, vol. 16 (Kairo: Hijr, 1997e M/1417e H), hlm. 142.

[25] Ibid, hlm. 164.

[26] Ibid, hlm. 166.

[27] Ibid, hlm. 585.

[28] ‘Allāmah Ibnu Katsīr, Al-Bidāyah Wa an-Nihāyahvol. 17 (Kairo: Hijr, 1997f M/1417f H), hh. 356-368.

[29] John Capper, Delhi: The Capital of India (New Delhi: Asian Educational Services, 1997), hlm. 30.

[30] Ugur Ümit Üngör, The Making of Modern Turkey: Nation and State in Eastern Anatolia, 1913-1950 (Oxford: Oxford University Press, 2011), hlm. 174.

[31] Al-Mu‘jam al-Kabīr, Fī Mā Rawat Umm-ul-Mu’minīn ‘Ā’isyah ‘An Fāṭimah raḍiyallāhu ‘anhumā, no. 1301.

[32] Ibnu al-Wardī, Kharīdat al-‘Ajā’ib Wa Farīdat al-Gharā’ib (Kairo: Maktabat ats-Tsaqāfah ad-Dīniyyah, 2007), hlm. 442.

[33] Sunan Ibni Mājah, Kitāb al-Fitan, Bāb Syiddat az-Zamān, no. 4039.

[34] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, I‘jāz al-Masīḥ (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2011), hlm. 9.

[35] Ibid.

[36] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Tadzkirat asy-Syahādatain dalam Rūḥānī Khazā’in, vol. 20 (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2009), hlm. 82.

[37] Ibid.

[38] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Al-Khuṭbah al-Ilhāmiyyah (Surrey: Al-Shirkatul Islamiyyah, 2009), hlm. 68.