Selasa, 15 November 2016

Telaah Hadis Khilāfah ‘Alā Minhāj an-Nubuwwah: Sebuah Tanggapan bagi Prof. Nadirsyah Hosen

نحمده ونصلي على رسوله الكريم
   بسم الله الرحمن الرحيم
وعلى عبده المسيح الموعود

Telaah Hadis Khilāfah ‘Alā Minhāj an-Nubuwwah: Sebuah Tanggapan bagi Prof. Nadirsyah Hosen

Horse and Groom by Haydar Ali, 16th Century, taken from http://mesosyn.com/

Beberapa hari yang lalu, saya membaca dalam sebuah artikel di blog Prof. Nadir Hosen[1] bahwa, menurut Professor Hukum Islam dari Monash University itu, hadis tentang Khilāfah ‘Alā Minhāj an-Nubuwwah sebagaimana tertera dalam Musnad Imam Aḥmad bin Ḥanbalrh ialah daif adanya serta bermuatan politis. Dengan berpegang pada keterangan Imam Al-Bukhārīrh, “Fīhi naẓar,” beliau “mempermasalahkan” seorang perawi bernama Ḥabīb bin Sālim yang karena “kebermasalahannya”-lah sanad hadis ini menjadi lemah di samping karena hadis ini tidak termaktub dalam satupun anggota Al-Kutub At-Tis‘ah selain Musnad Aḥmad.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas autentisitas hadis tersebut ditinjau dari sudut pandang ‘ilm ar-rijāl dengan pembatasan pada sosok Ḥabīb bin Sālim yang dipertentangkan. Selain itu, saya juga akan menyinggung sedikit mengenai nature dari Khilafat Islam, apakah ia secara substantif bersifat politis atau tidak.

Sejatinya, saya sudah sejak dari awal ingin menanggapi tulisan Prof. Nadir. Haya saja, karena harus mengikuti satu kegiatan di Yogyakarta, saya baru bisa menulis tanggapan sekarang. Semoga karangan ini bermanfaat bagi kita semua. Insya Allah 😏

Sanad, Matan, dan Takhrīj Hadis

Sebelum melaju lebih jauh, saya hendak ketengahkan dulu hadis yang tengah didiskusikan dengan sanad dan matan yang lengkap sehingga kita dapat memperoleh pengertian yang lebih mendalam. Imam Aḥmadrh menulis:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ؛ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ؛ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ؛ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ، قَالَ: كُنَّا قُعُوْدًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ بَشِيْرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيْثَهُ، فَجَاءَ أَبُوْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ، فَقَالَ: يَا بَشِيْرُ بْنُ سَعْدٍ! أَتَحْفَظُ حَدِيْثَ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأُمَرَاءِ؟ فَقَالَ حُذَيْفَةُ: أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ، فَجَلَسَ أَبُوْ ثَعْلَبَةَ، فَقَالَ حُذَيْفَةُ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ اللّٰهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةٌ عَلٰى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللّٰهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللّٰهُ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًّا، فَيَكُوْنُ مَا شَاءَ اللّٰهُ أَنْ يَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللّٰهُ أَنْ تَكُوْنَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةً عَلٰى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. ثُمَّ سَكَتَ. قَالَ حَبِيْبٌ: فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ، وَكَانَ يَزِيْدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ فِيْ صَحَابَتِهِ، فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ بِهٰذَا الْحَدِيثِ أُذَكِّرُهُ إِيَّاهُ، فَقُلْتُ لَهُ: إِنِّيْ أَرْجُوْ أَنْ يَكُوْنَ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ، يَعْنِيْ عُمَرَ، بَعْدَ الْمُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبْرِيَّةِ، فَأُدْخِلَ كِتَابِيْ عَلٰى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ، فَسُرَّ بِهِ، وَأَعْجَبَهُ.

“Sulaimān bin Dāwūd Aṭ-Ṭayālīsī menceritakan kepada kami; Dāwūd bin Ibrāhīm Al-Wāṣiṭī menceritakan kepadaku; Ḥabīb bin Sālim menceritakan kepadaku; dari Ḥaḍrat Nu‘mān bin Basyīrra, beliau berkata: Suatu kali, kami tengah duduk-duduk di Masjid Nabawi. Ḥaḍrat Basyīrra – ayah beliau – adalah seorang yang suka menahan diri untuk tidak menceritakan hadis yang diingatnya. Kemudian, datanglah Ḥaḍrat Abū Tsa‘labah Al-Khusyanīra, ia bertanya: Wahai Basyīr bin Sa‘d! Hafalkah dikau akan hadis Ḥaḍrat RasūlullāhSAW tentang para pemimpin? Ḥaḍrat Ḥudzaifahra lalu menyahut: Aku hafal khotbah beliau. Ḥaḍrat Abū Tsa‘labahra pun duduk dan Ḥaḍrat Ḥudzaifahra berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Kenabian akan berada di tengah-tengah kalian sampai suatu masa yang Allah kehendaki. Kemudian, Dia akan mengangkatnya apabila Dia berkenan untuk mengangkatnya. Berikutnya, akan muncul Khilāfah ‘Alā Minhāj an-Nubuwwah sampai suatu masa yang Allah kehendaki. Kemudian, Dia akan mengangkatnya apabila Dia berkenan untuk mengangkatnya. Berikutnya, akan muncul kerajaan yang lalim sampai suatu masa yang Allah kehendaki. Kemudian, Dia akan mengangkatnya apabila Dia berkenan untuk mengangkatnya. Berikutnya, akan muncul kerajaan yang menyombong sampai suatu masa yang Allah kehendaki. Kemudian, Dia akan mengangkatnya apabila Dia berkenan untuk mengangkatnya. Berikutnya, akan muncul lagi Khilāfah ‘Alā Minhāj an-Nubuwwah. Ḥaḍrat RasūlullāhSAW pun, akhirnya, diam.

Ḥabīb berkata: Ketika Ḥaḍrat ‘Umar bin ‘Abdil ‘Azīzrh naik menjadi khalifah dan Yazīd, putra Ḥaḍrat Nu‘mān bin Basyīrra termasuk dalam sahabat beliau, Aku menulis kepada beliau untuk mengingatkan beliau tentang hadis tersebut. Aku berkata kepada beliau: Aku berharap bahwa Amīrul-Mu’minīn berada setelah kerajaan yang lalim dan menyombong. Suratku pun dibawa masuk ke hadapan Ḥaḍrat ‘Umar bin ‘Abdil ‘Azīzrh dan beliau bergembira karenanya serta merasa takjub.”[2]

Hadis di atas juga tercantum dalam Musnad Abū Dāwūd Aṭ-Ṭayālisīrh – karena Imam Aḥmadra memang mengambil hadis dari beliau – dan Al-Baihaqīrh dalam Dalā’il an-Nubuwwah dengan sanad yang lebih panjang[3] serta Al-Baḥr Az-Zakhkhār karya Imam Al-Bazzārrh[4]. Setelah menyebutkan hadis tersebut, Al-Haitsamīrh menuturkan dalam Majma‘ az-Zawā’id:

رِجَالُهُ ثِقَاتٌ.

“Para perawinya tsiqāt.”[5]

Jadi, dari sini, kita bisa menyimpulkan dua hal. Pertama, hadis ini tidak hanya diriwayatkan oleh Imam Aḥmadrh, tetapi juga diriwayatkan oleh dua Imam yang lain sehingga dikategorikan memiliki mutāba‘ah. Kedua, secara garis besar, semua perawinya adalah terpecaya.

Hadis mubham riwayat Aṭ-Tabranīrh yang dikutip oleh Prof. Nadir memang masih berhubungan dengan hadis Imam Aḥmadrh yang tengah kita diskusikan. Hanya saja, keduanya tidak persis sama, baik dalam matan maupun sanad, sehingga masuk dalam kategori syāhid[6]. Tidak dimungkiri bahwa antara keduanya memang terdapat perhubungan. Namun, untuk saat ini, keduanya tidak akan dibahas terlalu jauh karena kita akan memfokuskan pemerhatian pada hadis Aḥmadrh, terutama mengenai sosok Ḥabīb bin Sālim.

Profil Ḥabīb bin Sālim dan Keterangan Al-Bukhārīrh

Berikut adalah keterangan para ulama hadis masa awal akan sosok Ḥabīb bin Sālim diambil dari kitab Tahdzīb at-Taḥdzīb karangan Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajarrh[7]:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Abū Ḥātim Ar-Rāzīrh
ثقة.
Tsiqah.
Ibnu Ḥibbānrh
ثقة.
Tsiqah.
Abū Dāwūdrh
ثقة.
Tsiqah.

Adapun para muḥadditsīn era belakangan yang turut berkomentar adalah:

Ulama
Komentar
Terjemahan
Adz-Dzahabīrh
ثقة.
Tsiqah.[8]
Ibnu Ḥajarrh
لا بأس به.
Tidak ada masalah dengannya.[9]

Dalam Tahdzīb al-Kamāl, Imam Al-Mizzīrh mengatakan:

رَوٰى لَهُ الْجَمَاعَةُ سِوَى الْبُخَارِيِّ.

“Selain Al-Bukhārīrh, Jamaah, yakni Muslimrh, Abū Dāwūdrh, At-Tirmidzīrh, An-Nasā’īrh, dan Ibnu Mājahrh mengambil riwayat darinya.”[10]

Jelas dari penuturan di atas bahwa Ḥabīb bin Sālim adalah figur periwayat hadis yang terpercaya di kalangan jumhur ahli hadis dan tidak bermasalah. Sekarang, kita beranjak menuju tahap mengapa Imam Al-Bukhārīrh sampai mengatakan berkenaan dengan dirinya, “Fīhi naẓar,”[11] yaitu, “Perlu ditinjau ulang.”

Sebenarnya, maksud dari Imam Al-Bukhārīrh telah dijelaskan oleh Ibnu ‘Adī Al-Jurjānīrh. Dalam Al-Kāmil, beliau berujar:

وَلِحَبِيْبِ بْنِ سَالِمٍ هٰذِهِ الْأَحَادِيْثُ الَّتِيْ أَمْلَيْتُهَا لَهُ، قَدْ خُوْلِفَ فِيْ أَسَانِيْدِهَا وَلَيْسَ فِيْ مُتُوْنِ أَحَادِيْثِهِ حَدِيْثٌ مُنْكَرٌ، بَلَ قَدِ اضْطَرَبَ فِيْ أَسَانِيْدِ مَا يُرْوٰى عَنْهُ.

“Hadis-hadis yang Aku diktekan ini adalah kepunyaan Ḥabīb bin Sālim. Ia diselisihi dalam sanad-sanad hadis yang dibawanya, tetapi tidak ada kemungkaran dalam matan-matannya. Ada kegoncangan dalam sanad-sanad hadis yang diriwayatkan darinya.”[12]

Hadis-hadis yang disampaikan oleh Ibnu ‘Adīrh adalah:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيٰى وَأَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ وَإِسْحٰقُ جَمِيْعًا؛ عَنْ جَرِيْرٍ، قَالَ يَحْيٰى: أَخْبَرَنَا جَرِيْرٌ؛ عَنْ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنْ حَبِيْبِ بْنِ سَالِمٍ مَوْلَى النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ، عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ، قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلٰى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِ.

“Yaḥyā bin Yaḥyā, Abū Bakr bin Abī Syaibah, dan Isḥāq menceritakan kepada kami; dari Jarīr, Yaḥyā berkata: Jarīr mengabarkan kepada kami; dari Ibrāhīm bin Muḥammad bin Al-Muntasyir, dari ayahnya, dari Ḥabīb bin Sālim, dari Ḥaḍrat Nu‘mān bin Basyīrra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW biasa membaca Surah Al-A‘lā dan Surah Al-Ghāsyiyah dalam dua salat Id dan salat Jumat.”[13]

ابن عيينة، عَنْ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنْ حَبِيْبِ بْنِ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ، قَالَ:  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْعِيْدَيِنِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلٰى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِ.

“Ibnu ‘Uyainah; dari Ibrāhīm bin Muḥammad bin Al-Muntasyir, dari ayahnya, dari Ḥabīb bin Sālim, dari ayahnya, dari Ḥaḍrat Nu‘mān bin Basyīrra, beliau berkata: Ḥaḍrat NabiSAW biasa membaca Surah Al-A‘lā dan Surah Al-Ghāsyiyah dalam dua salat Id.”[14]

Dari perincian Ibnu ‘Adīrh ini, tersingkaplah bahwa komentar Imam Al-Bukhārīrh, “Fīhi naẓar,” mengenai Ḥabīb bin Sālim bukan tertuju kepada pribadinya, yaitu ‘adālah dan ḍabṭ, melainkan kepada sanad dua hadis di atas: satu mengatakan bahwa Ḥabīb meriwayatkan langsung dari Ḥaḍrat Nu‘mānra, sedangkan yang lain mengatakan Ḥabīb mengambilnya lewat perantaraan ayahnya. Dengan kata lain, “celaan” – taruhlah jika ingin dikatakan demikian – yang dilontarkan oleh Imam Al-Bukhārīrh bersifat muqayyad, tidak muṭlaq. Akan tetapi, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa ketumpang-tindihan antara kedua sanad itu sebenarnya tidak berasal dari Ḥabīb, tetapi Ibnu ‘Uyainah. Menurut Abū Ḥātimrh, Sufyān bin ‘Uyainah berwaham kala menyatakan bahwa Ḥabīb meriwayatkan dari ayahnya. Yang benar adalah riwayat Jarīr sebagaimana tertera dalam Ṣaḥīḥ Muslim[15]. Jadi, pada dasarnya, Ḥabīb bin Sālim sama sekali tidak bermasalah dan bebas dari celaan.

Sebuah Tuduhan

Ada sesuatu yang menarik dari artikel Prof. Nadir Hosen ketika beliau mengutarakan bahwa Ḥabīb bin Sālim membacakan hadis ini di hadapan ‘Umar bin ‘Abdil-‘Azīzrh dengan tujuan mencari muka – mengingat telah beredar sebelumnya sejumlah hadis tentang kenabian, kekhilafahan,  dan kerajaan –. Apabila kita telaah dengan cermat, akan tampak ke hadapan kita dengan nyata bahwa ini adalah tuduhan serius yang timbul akibat kurangnya penelaahan. Telas dari matan hadis Imam Aḥmadrh bahwa Ḥabīb tidak membacakan langsung hadis ini di depan ‘Umar bin ‘Abdil-‘Azīzrh, tetapi menuliskannya dalam sebuah kertas atau surat lalu memberikannya kepada Yazīd, putra Ḥaḍrat Nu‘mān bin Basyīrra yang pada saat itu merupakan rekan Sang Khalifah. Selanjutnya, Yazīd membacakannya di depan Khalifah ‘Umarrh hingga beliau pun merasa gembira dan takjub.

Dalam riwayat Al-Bazzārrh memang disebutkan begini:

قَالَ حَبِيْبٌ: فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ، قَالَ ابْنُ النُّعْمَانِ: أَنَا أَرْجُوْ أَنْ يَكُوْنَ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيْزِ هُوَ. قَالَ: فَأُدْخِلَ حَبِيْبٌ عَلٰى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ فَحَدَّثَهُ، فَأَعْجَبَهُ يَعْنِيْ ذٰلِكَ.

“Ḥabīb berkata: Ketika ‘Umar bin ‘Abdil-‘Azīz datang, Ibnu Nu‘mān berkata: Aku berharap ‘Umar bin ‘Abdil-‘Azīzlah orangnya. Ḥabīb pun dibawa masuk menemui ‘Umar bin ‘Abdil-‘Azīz dan ia menceritakan hadis tersebut hingga Khalifah takjub dibuatnya.”

Akan tetapi, keterangan ini adalah syādz alias ganjil dari Ya‘qūb bin Isḥāq Al-Ḥaḍramī dengan dua alasan. Pertama, terbolak-baliknya nama perawi dari Dāwūd bin Ibrāhīm menjadi Ibrāhīm bin Dāwūd padahal yang benar meriwayatkan dari Ḥabīb bin Salīm adalah dari Dāwūd bin Ibrāhīm[16]. Kedua, dilihat dari kedudukannya, para ulama menganggap bahwa Ya‘qūb tidak begitu tsabat[17] atau kokoh, sedangkan Al-Bukhārīra berkeyakinan bahwa irsāl dari Aṭ-Ṭayālisī saja sudah tsabat. Lebih lanjut, Ibnu ‘Adī bertutur bahwa Aṭ-Ṭayālisī adalah orang yang paling hapal hadis di Basrah pada masanya[18].

Sampai sini, semua sudah terang benderang bahwa menggunakan komentar Imam Al-Bukhārīrh tentang Ḥabīb bin Salīm untuk melemahkan hadis Khilāfah ‘Alā Minhāj an-Nubuwwah, sebagaimana dilakukan oleh Prof. Nadirsyah Hosen dari Monash University, merupakan satu kekeliruan. Sekarang, saya akan menyinggung sedikit mengenai pembawaan alami khilafah, politiskah ia atau tidak.

Sifat Asli Khilafah

Allah Taala berfirman dalam Surah An-Nūr 56[19]:

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ﴿﴾

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan yang beramal saleh bahwa Dia akan meng-istikhlāf-kan mereka di atas bumi sebagaimana Dia telah meng-istikhlāf-kan orang-orang sebelum mereka.”

Menurut ‘Allāmah Al-Fayyūmīrh, kata kerja اِسْتَخْلَفْتُهُ berarti جَعَلْتُهُ خَلِيْفَةً, yakni, “Aku menjadikannya khalifah.”[20] Jadi, ayat inilah sebenarnya yang menjadi pijakan bagi konsepsi khilafah.

Dalam ayat ini, Allah Taala mempermaklumkan janjinya kepada umat Islam bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka khalifah-khalifah di bumi dengan syarat mereka benar-benar beriman dan beramal saleh. Jadi, berdasarkan ayat ini, asli dari kekhilafahan adalah perkara kerohanian, bukan politik, sebab iman dan amal saleh tidak ada hubungannya dengan politik.

Kemudian, jika kita pelajari dengan sakama riwayat hidup Nabi MuḥammadSAW, kita akan sampai pada kesimpulan yang sama. Pertama, kita semua, umat Islam, sepakat bahwa sejak turunnya wahyu pertama di Gua Hira berupa Surah Al-‘Alaq, Yang Mulia RasūlullāhSAW sudah menjadi nabi. Dengan kata lain beliau adalah khalifah, yaitu khalifah Allah, sama seperti Nabi Ādamas (2:31) dan Nabi Dāwūdas (38:27). Hal ini dikonfirmasi secara implisit oleh Ḥaḍrat Abū Bakrra ketika beliau menolak dipanggil dengan sebutan Khalīfatullāh dan meminta untuk dilakabkan dengan Khalīfatu Rasūlillāh[21]. Kedua, pada periode pertama kenabian beliau, yakni periode Mekkah, beliau sama sekali tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan politis. Sebaliknya, beliau beserta pengikut beliau menjadi sasaran dan mangsa persekusi kaum kafir Quraisy hingga terpaksa hijrah ke Madinah. Namun, bersamaan dengan itu, seperti telah diuraikan sebelumnya, beliau sudah menjadi Khalīfatullāh alias nabi sedari periode Mekkah. Kesimpulannya, jauhar atau esensi kekhilafahan bersifat rohani, ukhrawi, spiritual, tidak politis-duniawi.

Lantas, dari manakah kepemimpinan politik pertama kali muncul dalam sejarah Islam? Jawabannya adalah Ṣaḥīfat al-Madīnah atau Piagam Madinah. Melalui Piagam tersebut, beliau secara aklamasi terpilih untuk menduduki pucuk otoritas Madinah yang mengikat kesemua komponennya sebagai satu umat atau nasion, baik dari kaum Muslimin Muhajirin dan Ansar maupun kabilah-kabilah Yahudi yang mencakup Banī ‘Auf, Banī Najjār, Banī Ḥārits, Banī Jusym, Banī Aus, dan Banī Tsa‘labah[22]. Kepemimpinan politis ini terus berlanjut sampai beliau wafat. Sebagai pengganti NabiSAW, para Khulafā’-ur-Rāsyidīn turut mewarisinya. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, umat Islam cenderung menyempitkan mafhum khilafah sebagai bentuk keimaman politis-duniawi saja. Akibatnya pun menjadi fatal. Terbunuhnya Sayyidinā ‘Alīra dan Sayyidinā Ḥusainra merupakan dua tragedi besar yang dimusababkan oleh kesalah-kaprahan dalam memahami sifat alami khilafah. Inilah yang, sekali lagi, amat disayangkan, telah berurat akar di pikiran kaum Muslimin sampai dewasa ini.

Kembalinya Khilafah di Akhir Zaman

Mengetahui akan hal ini, Allah Taala melalui lisan suci Nabi MuhammadSAW telah mengabargaibkan kedatangan khalifah rohani RasūlullāhSAW pada tiap permulaan seratus tahun hijriah dalam sosok mujadid[23]. Khalifah mujadid ini berjumlah dua belas dan semuanya masih memiliki darah Quraisy[24]. Namun, setelah lewat masa dua ratus tahun[25] pada awal ribuan kedua Islam, kemunduran agama yang dirahmati Tuhan ini mengambil bentuk yang nyata sebagaimana diisyaratkan dalam Surah Al-Mu’minūn 19:

وَإِنَّا عَلٰى ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُوْنَ ﴿﴾

“Dan Kami amat berkuasa untuk menghilangkan air yang telah Kami turunkan dari langit ke bumi itu.”

Ḥisāb al-jumal ayat ini menunjukkan angka 1274, yakni 1274 H, yang bertepatan dengan tahun 1857 M[26]. Pada tahun itu, Kerajaan Mughal runtuh setelah Delhi takluk di bawah kekuasaan Inggris dengan tertangkapnya Sultan Bahādur Syāh Ẓafar. Seorang cucu dan dua putranya ditembak lalu jenazah mereka dipajang dan dipamerkan di kotwali kantor polisi setempat. Sang Sultan sendiri diasingkan ke Rangoon, Burma, dan wafat di sana pada 1862[27].


Pada masa-masa yang genting ini, Allah Taala juga telah berjanji untuk menyelamatkan kaum muslimin dengan mengutus seseorang berkebangsaan Persia[28] yang bergelar Al-Masīḥ dan Al-Mahdī[29] sebagai mujaddid a‘ẓam yang berstatus nabi[30]. Sesudah beliau mangkat, tidak akan ada lagi mujadid[31] sebab yang ada adalah Khilāfah ‘Alā Minhāj an-Nubuwwah[32] yang menggantikannya sampai hari kiamat. Kedatangan Khilāfah ‘Alā Minhāj an-Nubuwwah dimulai dengan turunnya perintah baiat oleh Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas selaku Imam Mahdī dan Masīḥ Mau‘ūd pada 1888 M yang bertepatan dengan 1305 H persis sesuai dengan perhitungan jumlah huruf dari kata لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ. Setelah beliau wafat pada 1908 M atau 1326 H, berdirilah Khilāfah ‘Alā Minhāj an-Nubuwwah al-Aḥmadiyyah, sekitar 16 tahun sebelum runtuhnya Dinasti ‘Utsmāniyyah pada 1924. Kini, Khilafah Islam Ahmadiyah dipimpin oleh Khalifah Kelima – Khalīfat-ul-Masīḥ Al-Khāmis –, Ḥaḍrat Mīrzā Masroor Aḥmad. Khilafah Islam Ahmadiyahlah yang pada akhir zaman ini bertugas untuk menyatukan kembali panji-panji umat Islam yang terpecah-belah dan memerangi semua agama atas nama Islam hingga Allah menghancurkan semuanya selain dari Islam, yakni memerangi mereka dengan hujah dan doa, dengan pertolongan-pertolongan ilahi, tidak dengan pedang atau senjata duniawi manapun.


Jakarta, 15 November 2016

Yang Lemah



R. Iffat Aulia Ahmad Argawinata


Catatan Kaki


[2] Musnad Aḥmad, Musnad Ḥudzaifah bin al-Yamanra, no. 18406.

[3] Musnad Aṭ-Ṭayālisī, Musnad Ḥudzaifah bin al-Yamanra, no. 439; Abū Bakr bin Ḥusain Al-Baihaqī, Dalā’il an-Nubuwwah Wa Ma‘rifatu Aḥwāli Ṣāḥib asy-Syarī‘ah, vol. 5 (Kairo: Dār al-Bayān Li at-Turāts, 1988 M/1408 M), hlm. 491.

[4] Al-Baḥr az-Zakhkhār Bi Musnad Al-Bazzār, Musnad Ḥudzaifah bin al-Yamanra, no. 2796.

[5] Majma‘ az-Zawā’id Wa Manba‘ al-Fawā’id, Kitāb al-Khilāfah, Bāb Kaifa Bada’at al-Imāmah Wa Mā Taṣīru Ilaihi Wa al-Mulk Wa al-Khilāfah, no. 8960.

[6] Hadis tersebut terdapat dalam Al-Mu‘jam Al-Ausaṭ no. 6577 dan berbunyi sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ أَعْيَنَ؛ ثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنِ أَبِيْ شَيْبَةَ؛ ثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ؛ ثَنَا الْعَلاءُ بْنُ الْمِنْهَالِ الْغَنَوِيُّ؛ حَدَّثَنِيْ مُهَنَّدُ الْقَيْسِيُّ؛ وَكَانَ ثِقَةً، عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكُمْ فِيْ نُبُوَّةٍ وَرَحْمَةٍ، وَسَتَكُوْنُ خِلافَةٌ وَرَحْمَةٌ، ثُمَّ يَكُوْنُ كَذَا وَكَذَا، ثُمَّ يَكُوْنُ مُلْكًا عَضُوْضًا، يَشْرَبُوْنَ الْخُمُوْرَ، وَيَلْبَسُوْنَ الْحَرِيْرَ، وَفِي ذٰلِكَ يُنْصَرُونَ إِلٰى أَنْ تَقُوْمَ السَّاعَةُ.

“Muḥammad bin Ja‘far bin A‘yan menceritakan kepada kami; Abū Bakr bin Abī Syaibah menceritakan kepada kami; Zaid bin Ḥubāb menceritakan kepada kami; ‘Alā’ bin Minhāl Al-Ghanawī menceritakan kepada kami; Muhannad Al-Qaisī menceritakan kepadaku – dan ia seorang yang tsiqah – dari Qais bin Muslim, dari Ṭāriq bin Syihāb, dari Ḥaḍrat Ḥudzaifah bin Al-Yamanra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Sesungguhnya, kalian tengah berada dalam kenabian dan kerahmatan. Pada waktu dekat, akan muncul khilafah dan kerahmatan. Kemudian, setelahnya akan ada ini dan itu. Kemudian, akan muncul kerajaan yang lalim: mereka meminum khamar dan berpakaian sutra. Dalam keadaan demikian, mereka masih tetap ditolong hingga waktu berdirinya Sā‘ah tiba.”

Dari segi matan, hadis ini tidak menyebutkan perincian hadis Imam Aḥmadrh, yaitu kenabian, khilafah, kerajaan yang lalim, kerajaan yang menyombong, lalu khilafah lagi. Di samping itu, kedua hadis tersebut juga berbeda dalam hal sanad. Dalam sanad Aḥmadrh, perawi setelah Ḥaḍrat Ḥudzaifahra adalah Ḥaḍrat Nu‘mānra. Sementara itu, perawi sesudah Ḥaḍrat Ḥudzaifahra dalam riwayat Imam Aṭ-Ṭabrānīrh adalah Ṭāriq bin Syihāb. Jadi, keduanya tidak dapat dipandang sebagai mutāba‘ah, tetapi sebagai syāhid.

[7] Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, Tahdzīb at-Tahdzīb, vol. 1 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1995 M/1416 H), hlm. 350.

[8] Syams-ud-Dīn Adz-Dzahabī, Tārīkh al-Islām Wa Wafayāt al-Masyāhīr Wa al-A‘lām, vol. 7 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1990 M/1410 H), hlm. 46.

[9] Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī, Taqrīb at-Tahdzīb (Riyadh: Dār al-'Āṣimah, 1416 H), hlm. 219.

[10] Jamāl-ud-Dīn Yūsuf Al-Mizzī, Tahdzīb al-Kamāl Fī Asmā’ ar-Rijāl, vol. 5 (Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 1992 M/1413 H), hlm. 350.

[11] Muḥammad bin Ismā‘īl Al-Bukhārī, At-Tārīkh al-Kabīr, vol. 3 (Beirut: Dā’irat al-Ma‘ārif al-Islāmiyyah, tt), hlm. 318.

[12] Ibnu ‘Adī, Al-Kāmil Fī Ḍu‘afā’ ar-Rijāl, vol. 3 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998 M/1418 H), hlm. 315.

[13] Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jum‘ah, Bāb Mā Yuqra‘u Fī Salāt al-Jum‘ah, no. 878.

[14] Jāmi‘ at-Tirmidzī, Kitāb aṣ-Ṣalāh, Bāb al-Qirā’ah Fī al-‘Īdain, no. 533; Ibnu ‘Adī, op. cit., hh. 314-315.

[15] Ibnu Abī Ḥātim Ar-Rāzī, Kitāb al-‘Ilal, vol. 2 (Riyadh: Fahrasat Maktabah Malik Fahd al-Waṭaniyyah, 1426 H), hlm. 250.

[16] Syams-ud-Dīn Adz-Dzahabī, Mīzān al-I‘tidāl Fī Naqd ar-Rijāl, vol. 3 (Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995 M/1416 H), hlm. 5.

[17] Ibnu Sa‘d, Aṭ-Ṭabaqāt al-Kabīr, vol. 9 (Kairo: Maktabah al-Khānijī, 2001 M/1421 H), hlm. 305.

[18] Syams-ud-Dīn Adz-Dzahabī, op. cit., 1995 M/1416 H, hlm. 290.

[19] Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm adalah ayat pertama dari setiap surah Alquran selain At-Taubah. Penjelasan lengkapnya bisa dibaca di sini.

[20] Aḥmad bin Muḥammad Al-Fayyūmī, Al-Miṣbāḥ al-Munīr Fī Gharīb asy-Syarḥ al-Kabīr (Beirut: Maktabah Lubnān, 1987), hlm. 178.

[21] Lihat; Muṣannaf Ibni Abī Syaibah, Kitāb al-Maghāzī, Mā Jā’a Fī Khilāfati Abī Bakr, no. 36351.

[22] Ibnu Hisyām, As-Sīrah An-Nabawiyyah (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1990 M/1410 H), hh. 143-146.

[23] Dalam Sunan Abī Dāwūd, Kitāb al-Malāḥim, Bāb Mā Yudzkaru Fī Qarn al-Mi’ah, no. 4291, ada termaktub:

عَنْ أَبِيِ هُرَيْرَةَ، فِيمَا أَعْلَمُ عَنْ رَسُوِلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: إِنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ لِهٰذِهِ الْأُمَّةِ عَلٰى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا.

“Dari Ḥaḍrat Abū Hurairahra, dari Ḥaḍrat RasūlullāhSAW, beliau bersabda: Sesungguhnya, Allah akan membangkitkan bagi umat ini, pada tiap permulaan seratus tahun, seseorang yang akan memperbaharui agama mereka.”

[24] Dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Imārah, Bāb an-Nās Taba‘un Li Quraisyin Wa al-Khilāfah, ada tercantum:

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ: دَخَلْتُ مَعَ أَبِيْ عَلٰى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: إِنَّ هٰذَا الْأَمْرَ لَا يَنْقَضِيْ حَتّٰى يَمْضِيَ فِيْهِمْ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً. قَالَ: ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلَامٍ خَفِيٍّ عَلَيَّ. قَالَ: فَقُلْتُ لِأَبِي: مَا قَالَ؟ قَالَ: كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ.

“Dari Ḥaḍrat Jābir bin Samurahra, beliau berkata: Aku masuk bersama ayahku ke dalam kediaman Ḥaḍrat NabiSAW lalu Aku mendengar beliau bersabda: Sesungguhnya, perkara ini tidak akan berhenti sampai berlalu di tengah-tengah mereka dua belas khalifah yang semuanya berasal dari Quraisy.”

[25] Dalam Sunan Ibni Mājah, Kitāb al-Fitan, Bāb al-Āyāt, no. 4057, disebutkan:

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ؛ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْآيَاتُ بَعْدَ الْمِائَتَيْنِ.

“Dari Ḥaḍrat Abū Qatādahra, beliau berkata: Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Tanda-tanda akan muncul setelah dua ratus tahun.”

Mullā ‘Alī Al-Qāri’rh menjelaskan:

وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُوْنَ الَّلامُ فِي الْمِائَتَيْنِ لِلْعَهْدِ، أَيْ: بَعْدَ الْمِائَتَيْنِ بَعْدَ الْأَلْفِ وَهُوَ وَقْتُ ظُهُوْرِ الْمَهْدِيِّ وَخُرُوْجِ الدَّجَّالِ وَنُزُوْلِ عِيْسٰى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَتَتَابُعِ الْآيَاتِ مِنْ طُلُوْعِ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَخُرُوْجِ دَابَّةِ الْأَرْضِ وَظُهُوْرِ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ وَأَمْثَالِهَا.

Lām dalam al-mi’atain dapat juga memfaedahkan al-‘ahd, yakni 200 tahun setelah 1000 tahun, dan itulah memang waktu datangnya Al-Mahdīas, keluarnya Dajal, turunnya ‘Īsāas, dan berkesinambungannya tanda-tanda lain semisal terbitnya matahari dari barat, keluarnya binatang bumi, dan datangnya Yakjuj-Makjuj.”

Lihat; Mirqāt al-Mafātīḥ Syarḥ Misykāt al-Maṣābīḥ, Kitāb al-Fitan, Bāb Asyrāṭ as-Sā‘ah, no. 5460.

[26] Ḥaḍrat Mīrzā Ghulām Aḥmadas, Izāla-e-Auhām dalam Rūḥānī Khazā’in, vol. 3 (Surrey: Islam International Publications Limited, 2009), hlm. 456.

[27] John Capper, Delhi: The Capital of India (New Delhi: Asian Educational Services, 1997), hlm. 30.

[28] Dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb at-Tafsīr, Bāb Tafsīru Sūrah al-Jum‘ah, no. 4897, terdapat riwayat:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: لَوْ كَانَ الْإِيْمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ أَوْ رَجُلٌ مِّنْ هٰؤُلَاءِ.

“Dari Ḥaḍrat Abū Hurairahra, dari Ḥaḍrat NabiSAW, beliau bersabda: Jika iman berada pada bintang Tsurayyā’, orang-orang atau seorang dari bangsa Salmānra akan mengambilnya kembali.”

[30] Dalam Sunan Ibni Mājah, Kitāb al-Fitan, Bāb Syiddat az-Zamān, no. 4039, ada tertulis:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لا يَزْدَادُ الأَمْرُ إِلا شِدَّةً، وَلا الدُّنْيَا إِلا إِدْبَارًا، وَلا النَّاسُ إِلا شُحًّا، وَلا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلا عَلَى شِرَارِ النَّاسِ، وَلا الْمَهْدِيُّ إِلا عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ.

“Dari Ḥaḍrat Anas bin Mālikra, bahwa Ḥaḍrat RasūlullāhSAW bersabda: Tidaklah bertambah urusan ini, kecuali bertambah sukar. Tidak pula dunia bertambah, kecuali kemenjauhannya. Manusia pun tidak bertambah, kecuali kepelitannya. Kiamat tidak akan terjadi kecuali atas orang-orang yang buruk. Tidak ada Mahdī, kecuali ‘Īsā.”

[30] Masīḥ Mau‘ūdas disebut sebagai nabiyullāh sebanyak empat kali dalam sebuah hadis. Lihat; Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Fitan Wa Asyrāṭ as-Sā‘ah, Bāb Dzikr ad-Dajjāl Wa Ṣifatihi Wa Mā Ma‘ahu, no. 2938.

[31] Silakan baca di sini.

[32] Dalam mengomentari hadis Imam Aḥmadrh tentang Khilāfah ‘Alā Minhāj an-Nubuwwah, Mullā ‘Alī Al-Qāri’rh berpenuturan:

وَالْمُرَادُ بِهَا زَمَنُ عِيْسٰى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَالْمَهْدِيُّ رَحِمَهُ اللهُ.

“Maksudnya adalah zaman ‘Īsāas dan Al-Mahdīas.”

Lihat; Mirqāt al-Mafātīḥ Syarḥ Misykāt al-Maṣābīḥ, Kitāb ar-Riqāq, Bāb al-Indzār Wa at-Tandzīr, no. 5378.

4 komentar:

  1. Mabruk gus Iffat.... JazakAllah...

    BalasHapus
  2. Sangat baik dan bagus tanggapannya. Salam

    BalasHapus
  3. Jazakumullah Ilmu nya Gus Iffat, semoga Ilahi membukakan pintu insan yg baik

    BalasHapus